[iklan]
daftar-harga-wiremesh-agustus-2019

BENDERA DAULAH ISLAMIYYAH DI ERA NABI SAW

Berikut adalah tulisan cukup lengkap mengenai bendera di masa daulah yang didirikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Disertai dengan berbagai hadis yang berhubungan dengan warna bendera dan Panji Rasulullah tersebut. Semoga tulisan ini bisa berguna bagi kita semua untuk menambah pengetahuan dan keyakinan kita tentang Panji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Yang kita sangat berharap nanti di Yaumil akhir bisa berada bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di bawah Panji Rasulullah tersebut.

Semoga kita bisa selalu masih Arkan dan mengibarkan Panji Rasulullah dan bendera Rasulullah serta menghormati dan menjaga nya. semoga bendera Rasulullah shallallahu alaihi wasallam segera bisa berkibar di seluruh negeri.

BENDERA NEGARA DAULAH ISLAMIYYAH DI ERA NABI SAW

Warna bendera (liwa’) dan panji (rayah) Nabi saw, bentuk, dan karakteristiknya telah dijelaskan secara rinci di dalam hadits-hadits shahih. Bendera kenegaraan Nabi saw dan para khalifah setelah beliau berbentuk persegi empat, berwarna putih, dan di tengahnya terdapat tulisan "La Ilaha Illa al-Allah, Mohammad al-Rasuul al-Allah".  Bendera ini disebut dengan al-liwa'.  Sedangkan panji pasukan beliau berwarna hitam, dan bertuliskan kalimat tauhid dan syahadat Rasul.   Panji tersebut diberi nama al-rayah.

Berikut ini akan dipaparkan hadits-hadits shahih yang menuturkan bentuk, warna, dan tulisan yang terdapat di dalam bendera atau panji Nabi saw.

Bendera Kenegaraan (Liwa') Berwarna Putih

Dari Ibnu ‘Abbas ra dituturkan bahwasanya ia  berkata:

كانت راية رسول الله صلى الله عليه و سلم سوداء ولواؤه أبيض
"Raayahnya (panji) Rasul saw berwarna hitam, sedangkan benderanya (liwa’nya) berwarna putih".1

Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwasanya ia berkata:

كانت راية النبي ( صلى الله عليه وسلم ) قطعة قطيفة سوداء كانت لعائشة وكان لواؤه أبيض
"Panji Nabi saw terbuat dari beludru berwarna hitam, dan berada di tangan ‘Aisyah ra;  sedangkan liwa’nya berwarna putih".2

Dari ‘Abdullah bin Buraidah dari bapaknya diriwayatkan bahwasanya Abu Qasim bin ‘Asakir berkata,”Telah meriwayatkan kepada kami Abu al-Qasim Zahir bin Thahir asy-Syahaamiy, dan Abu al-Mudzfar bin al-Qasyiiriy, keduanya berkata, ‘Telah mengabarkan kepada kami, Abu Sa’ad al-Junzuruudiy, telah mengabarkan kepada kami, Abu ‘Amru bin Hamdaan, telah mengabarkan kepada kami Abu Ya’la al-Mushiliy, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin al-Hujjaj, telah mengabarkan kepada kami Hibban bin ‘Ubaidillah –tambahan dari al-Qasyiiriy— Ibnu Hibban Abu Zahiir, telah mengabarkan kepada kami Abu Majliz dari Ibnu ‘Abbas, Hayyan berkata, ‘Telah meriwayatkan kepada kami ‘Abdillah bin Buraidah dari bapaknya:

راية رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) سوداء ولواءه أبيض
"Sesungguhnya, panji Rasulullah saw (raayah) berwarna hitam, sedangkan liwa’nya berwarna putih".3

Dari Jabir ra diriwayatkan secara marfu’ dari  Rasulullah saw, bahwasanya ia berkata:

كان لواؤه أبيض يوم دخل مكة
"Bendera Nabi saw (liwaa’) pada saat masuk kota Makkah berwarna putih".4

‘Aisyah ra juga menuturkan sebuah hadits, bahwasanya ia berkata:

كان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض
"Liwaa’nya Rasulullah saw berwarna putih".5

Dari Ibnu ‘Umar ra diriwayatkan bahwasanya beliau berkata:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا عقد لواء عقده أبيض ، وكان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض
"Rasulullah saw, jika  memasangkan benderanya, beliau memasangkan bendera (liwaa’) yang berwarna putih".  Dan liwa’ Rasulullah saw berwarna putih.6

Rasyid bin Sa’ad telah menceritakan sebuah riwayat dari Rasulullah saw:

كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم سوداء ولواؤه أبيض.
"Panji (raayah) Nabi saw berwarna hitam, sedangkan liwa’nya berwarna putih".7

Bendera Pasukan (Ar-Rayah), Berwarna Hitam

Ibnu ‘Asakir menuturkan sebuah riwayat dengan sanad dari Sa’id bin Basyir dari Qatadah dari Anas, bahwasanya ia berkata:

كان لرسول الله صلى الله عليه وسلم لواء أسود
"Rasulullah saw memiliki liwaa’ (bendera besar) berwarna hitam".8

Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dengan sanad dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah, bahwasanya ia berkata:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كانت عمامته سوداء تسمى العقاب ولواؤه أسود
"Nabi saw memiliki sebuah panji hitam yang bernama Al-’Uqab. Liwaa’ (bendera) beliau berwarna hitam".9

‘Abdur Raziq meriwayatkan sebuah riwayat di dalam Mushannif dengan sanad dari seorang laki-laki penduduk Madinah:

كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ ، وَرَايَتُهُ أَبْيَضَ
"Bahwa panji Rasulullah saw (raayah) berwarna putih, sedangkan liwaa’nya berwarna hitam".10

Dari Ibnu ‘Abbas ra, dituturkan bahwasanya ia berkata:

كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ.
"Liwa’ Rasulullah saw berwarna putih, sedangkan panjinya berwarna hitam".13

Dari Abu Hurairah ra  diriwayatkan bahwasanya ia berkata:

وَرَايَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ
"Panji Rasulullah saw berwarna hitam".14

Dituturkan pula dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, bahwasanya ia berkata:

أن راية رسول الله صلى الله عليه و سلم كانت سوداء
"Rasulullah saw memiliki panji yang berwarna hitam".15

Dari ‘Aisyah ra diriwayatkan bahwasanya  ia berkata:

كان لواء رسول الله صلى الله عليه وسلم أبيض ورايته سوداء من مرط لعائشة مرحل
"Liwaa’nya Rasulullah saw berwarna putih, sedangkan panji-panjinya berwarna hitam yang terbuat dari kain bulu unta milik ‘Aisyah ra".16

Dari Jabir ra dituturkan bahwasanya ia berkata:

أَنَّ رَايَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ سَوْدَاءَ
”Panji Rasulullah saw berwarna hitam".17

Imam Waqidiy telah menceritakan di dalam kitab al-Maghaziynya, sebuah fragmen dari kisah perang Khaibar, ia berkata:

فكانت راية النبي، صلى الله عليه وسلم، السوداء من برد لعائشة تدعى العقاب
"Panji Nabi saw berwarna hitam, dari kain bulu milik ‘Aisyah ra.  Panji itu diberi nama Al-’Uqab".18

Imam al-‘Iraqiy mencantumkan sebuah riwayat di dalam kitabnya, Tharh at-Tatsriib Syarh at-Taqriib19, "Dari Yunus bin ‘Ubaidah, maula Muhammad al-Qasim, ia berkata:

بعثني محمد بن القاسم إلى البراء بن عازب اسأله عن راية رسول الله صلى الله عليه و سلم ما كانت قال : كانت سوداء مربعة من نمرة
“Muhammad bin al-Qasim telah mengutusku untuk menanyakan tentang panji Rasulullah saw kepada Bara’ bin ‘Azib. Beliau menjawab, “Panji Rasulullah berwarna hitam, berbentuk persegi empat, terbuat dari kain wool".20

Dari Harits bin Hisaan diriwayatkan bahwasanya ia berkata:

قدمت المدينة فإذا النبي صلى الله عليه وسلم على المنبر وبلال قائم بين يديه متقلدا سيفا ، وإذا رايات سود فقلت : من هذا ، قالوا : عمرو بن العاص قدم من غزاة.
"Ketika aku sampai di Madinah, aku melihat Rasulullah saw berdiri di atas mimbar, sedangkan Bilal berada di sampingnya, menyandang sebilah pedang. Panjinya berwarna hitam. Aku bertanya, ‘Apa ini’.  Para sahabat menjawab, ‘Ini adalah ‘Amru bin al-Ash yang baru pulang dari medan perang".21

Imam al-Munawiy menyatakan dalam kitabnya Faidl al-Qadiir22, ‘Imam Tirmidziy meriwayatkan di dalam al-‘Ilal dari Bara’ dari jalur lain dengan redaksi:

كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ
"Panji Rasulullah saw berwarna hitam, berbentuk persegi empat, dan terbuat dari kain wool".  

Aku menanyakan hal ini kepada Muhammad –yakni Imam Bukhari--, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’.  Imam Munawiy juga berkata, ‘Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Thabrani dengan redaksi yang sama’.

Dari Ibnu ‘Abbas dituturkan bahwasanya ia berkata:

كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ
"Panji Rasulullah saw berwarna hitam, berbentuk persegi empat, terbuat dari kain wool".23

Imam Nasaaiy meriwayatkan dari Anas, bahwasanya ia menceritakan:

أن بن أم مكتوم كانت معه راية سوداء لرسول الله صلى الله عليه و سلم في بعض مشاهد النبي صلى الله عليه و سلم
"Ibnu Ummi Maktum membawa panji hitam dalam beberapa pertempuran yang dilakukan oleh Rasulullah saw".24

Rasyid bin Sa’ad telah menuturkan:

كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم سوداء
“Panji Rasulullah saw berwarna hitam".25

Dari ‘Urwah bin Zubair, ia berkata:

كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم سوداء من برد لعائشة يدعى العقاب
"Panji Rasulullah saw berwarna hitam dari kain bulu milik ‘Aisyah ra.  Panji itu diberi nama Al-’Uqab".26

Musaddad telah meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aun, bahwasanya ia berkata, "Telah meriwayatkan kepadaku seorang syaikh –aku menduga riwayat ini berasal dari Bakar bin Wail--, bahwasanya ia berkata:

أخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم شقة خميصة سوداء ذات يوم فعقدها على رمح، هزها فقال: (من يأخذها بحقها)، فهابها المسلمون من أجل الشرط، فقال إليه رجل فقال: أنا آخذها بحقها، فما حقها ؟ قال: (تقاتل مقدما ولا تغرب بها من كافر
"Suatu hari Rasulullah saw telah mengeluarkan secarik kain berwarna hitam. Kain itu dipasangkan di ujung tombak, selanjutnya beliau saw mengibas-ngibaskannya. Kemudian, Rasulullah saw bertanya, ‘Siapa yang bersedia menunaikan haknya (panji tersebut)’? Berdirilah seorang laki-laki, dan langsung berkata, ‘Aku akan menunaikan haknya. Lalu, apa hak panji tersebut’?  Rasulullah saw menjawab, ‘Berperang di garis depan, dan tidak boleh seorang pun dari kalangan orang kafir yang boleh menyentuhnya".27

Abu al-Hasan ad-Dlahak meriwayatkan sebuah hadits dari Sa’id bin al-Musayyab ra, ia berkata:

كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم أحد مرط أسود مرحل كان لعائشة رضي الله تعالى عنها
"Panji Rasulullah saw pada saat perang Uhud adalah secarik kain wool hitam, milik ‘Aisyah ra…"28

Ibnu Sa’ad menuturkan di dalam Thabaqatnya29, dari al-Hasan, ia berkata:

كانت راية رسول الله، صلى الله عليه وسلم، سوداء تسمى العقاب
"Panji Rasulullah saw berwarna hitam dan diberi nama Al-’Uqab".

Diriwayatkan juga dengan sanad dari Yazid bin Abiy Hubaib, ia berkata:

كانت رايات رسول الله، صلى الله عليه وسلم، سوداً
"Panji-panji Rasulullah saw berwarna hitam".30

Al-Khaza’iy berkata, dan Ibnu Jama’ah (dalam Mukhtashar as-Siirah) berkata kepadanya:

وكانت لرسول الله صلى الله عليه وسلم راية سوداء مربعة من نمرة مخملة يقال لها العقاب
"Rasulullah saw memiliki panji berwarna hitam, berbentuk persegi empat, terbuat dari kain wool. Panji itu diberi nama al-‘uqaab".32

Ibnu Ishaq berkata:

ودفع اللواء إلى مصعب بن عمير، وكان أبيض، وبين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم رايتان سوداوان: إحداهما مع علي بن أبي طالب يقال لها: العقاب، وكان سنه إذ ذاك عشرين سنة، وكانت الاخرى مع بعض الانصار
"Sesungguhnya Nabi saw menyerahkan liwaa’ (bendera besar) kepada Mush’ab bin ‘Umair. Bendera itu berwarna putih.  Dan di tangan Rasulullah saw ada dua panji hitam; panji pertama yang bernama Al-’Uqab berada di tangan Ali bin Abi Thalib ra.  Umur beliau saat itu baru menginjak 20 tahun.  Sedangkan panji kedua berada di tangan seorang laki-laki dari suku Anshar. ". [Mohammad bin Yusuf al-Shalihiy al-Syaamiy, Subul al-Huda wa al-Rasyad, Juz 4, hal.24] Hadits ini juga diceritakan ‘Abdil Baar dalam (kitab) ad-Durur33, saat beliau menjelaskan salah satu fragmen perang Badar.

Inilah beberapa riwayat yang menerangkan bendera Nabi saw. Keterangan-keterangan senada juga telah dituturkan oleh al-‘Iraqiy dan al-Khaza’iy.34 

Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Baariy37 menuturkan bahwasanya ada yang berpendapat bahwasanya:

وَقِيلَ كَانَتْ لَهُ رَايَة تُسَمَّى الْعِقَاب سَوْدَاء مُرَبَّعَة ، وَرَايَة تُسَمَّى الرَّايَة الْبَيْضَاء ، وَرُبَّمَا جُعِلَ فِيهَا شَيْء أَسْوَد
"Beliau saw memiliki sebuah panji yang diberi nama Al-’Uqab, berwarna hitam dan berbentuk persegi empat.  Dan beliau juga memiliki bendera yang diberi nama Ar-Rayah al-Baidla’ (bendera putih).. Kadang-kadang beliau membawa panji yang berwarna hitam".

Nama Bendera Rasulullah saw, "Al-’Uqab"

Di dalam banyak nash, baik dalam hadits Nabi saw, atsar dari ulama salaf, serta dokumen-dokumen sejarah, telah dijelaskan dengan sangat gamblang bahwa panji Nabi saw dinamakan dengan Al-‘Uqaab.

Imam Munawiy telah mengutip suatu riwayat dari Imam Ibnu al-Qayyim, di sana disebutkan:

كان رايته  تسمى العقاب كما ذكره ابن القيم وكانت  سوداء  أي غالب لونها أسود خالص ذكره القاضي ثم الطيبي
"Panji Rasulullah saw dinamakan dengan Al-’Uqab.  Panji itu berwarna hitam, dengan kata lain, warnanya didominasi warna hitam polos. Inilah ringkasan penjelasan yang dikemukakan oleh Al-Qadliy dan al-Thaiyibiy ".42

Berikut ini adalah riwayat-riwayat yang tercantum di dalam Musnad yang menunjukkan bahwa nama panji Rasulullah saw adalah Al-’Uqab.
Ibnu ‘Asakir  meriwayatkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah, bahwasanya ia berkata:

كانت راية النبي ( صلى الله عليه وسلم ) قطعة قطيفة سوداء كانت لعائشة وكان لواؤه أبيض وكان يحملها سعد بن عبادة ثم يركزها في الأنصار في بني عبد الأشهل وهي الراية التي دخل بها خالد بن الوليد ثنية دمشق وكان اسم الراية العقاب
"Panji Nabi saw (raayah) adalah potongan kain beludru berwarna hitam.  Panji itu menjadi milik ‘Aisyah ra.  Sedangkan bendera Rasulullah saw (liwaa’) berwarna putih. Selanjutnya Sa’ad bin ‘Ubadah membawa bendera itu.  Lalu, beliau menyerahkannya kepada orang-orang Anshar, yakni Bani ‘Abd al-Asyhal. Panji tersebut pernah dibawa oleh Khalid bin Walid untuk menaklukkan Damsyiq. Panji itu diberi nama Al-’Uqab".

Beliau menambahkan:

عن علقمة بن أبي علقة قال بلغني والله أعلم أن سيف رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) ذو الفقار واسم رايته العقاب
"Dari ‘al-Qamah bin Abi ‘al-Qamah, ia berkata: ‘Telah sampai berita kepadaku –wallahu a’lam-- bahwa pedang Nabi saw bernama Dzul Fiqaar, sedangkan panjinya bernama Al-’Uqab".43

Imam Ibnu ‘Asakir juga menyatakan:

عن زهير بن محمد قال اسم راية رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) العقاب
“Dari Zuhair bin Mohammad, bahwasanya beliau berkata, “Nama panji Rasulullah saw adalah Al-’Uqab.44

Imam as-Syaibaniy meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Urwah bin Zubair, bahwasanya ia berkata:

كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم سوداء من برد لعائشة يدعى العقاب
"Panji Rasulullah saw berwarna hitam yang berasal dari kain wool milik ‘Aisyah.  Panji itu dinamakan Al-’Uqab".45

Dari al-Hasan ra dituturkan bahwasanya ia berkata:

كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم تسمى العقاب
"Panji Rasulullah saw dinamai Al-’Uqab".46

Di dalam Kitab Tarikh Damsyiq, Imam Ibnu ‘Asakir menuturkan sebuah riwayat:

عن زهير بن محمد قال اسم راية رسول الله صلى الله عليه وسلم  العقاب
“Dari Zahir bin Mohammad, bahwasanya ia berkata, “Nama panji Rasulullah saw adalah al-‘Uqab”.[ Imam Ibnu ‘Asakir, Tarikh Damsyiq, Juz 4, hal. 226]

Di dalam Kitab Tarikh Madinah Damsyiq, Imam Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan bin Hibatullah bin ‘Abdullah al-Syafi’iy menuturkan sebuah riwayat dari Mohammad bin ‘Imarah bin ‘Amir bin ‘Amru bin Hazm, bahwasanya ia berkata:

كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم التي يسير فيها تسمى العقاب
“Panji Rasulullah saw yang beliau saw selalu membawanya dalam peperangan, bernama al-‘Uqab”. [Imam Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan Al-Syafi’iy, Tarikh Madinah Damsyiq, Juz 2, hal. 344]

Dari Qatadah dari Sa’id bin al-Musayyab, bahwasanya beliau berkata:

كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم أحد مرطا أسود كان لعائشة وراية الأنصار يقال لها العقاب
“Panji Rasulullah saw pada saat perang Uhud terbuat dari kain bulu berwarna hitam milik’Aisyah ra dan panji orang Anshor, diberi nama al-‘Uqab”. [Tarikh Madinah Damsyiq,

Ibnu Hisyam, tatkala menuturkan hadits yang bercerita tentang perang Badar, ia berkata:

وكان أمام رسول الله صلى الله عليه وسلم رايتان سوداوان إحداهاما مع علي بن أبي طالب يقال لها العقاب والأخرى مع بعص الأنصار
"Di depan Rasulullah saw ada dua buah panji berwarna hitam. Satu di tangan ‘Ali.  Orang menyebutnya Al-’Uqab. Sedangkan satunya lagi ada di tangan orang Anshar.49

Imam Ibnu Hajar menyatakan:

كَانَتْ لَهُ رَايَة تُسَمَّى الْعِقَاب سَوْدَاء مُرَبَّعَة
"Telah dinyatakan bahwa Rasulullah saw memiliki sebuah panji yang bernama Al-’Uqab, berwarna hitam dan berbentuk persegi empat.50

Al-Nuwairiy menyatakan tentang panji Rasulullah saw:

وكان له راية سوداء مخملة ، يقال لها العقاب ، ولواء أبيض وربما جعل الألوية من خمر نسائه ( صلى الله عليه وسلم ) ، ورضى عنهن
"Beliau saw memiliki panji berwarna hitam persegi empat, bernama Al-’Uqab.  Sedangkan liwa’nya (bendera) berwarna putih. Kadang-kadang secarik selendang isteri-isteri beliau saw dijadikan sebagai liwa’ (bendera).51

Imam al-Khaza’iy menyatakan:

وذكر عبد الله بن حيان الأصبهاني  عن الحسن: كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم سوادء تسمى العقاب
"’Abdullah bin Hayan al-Ishbahaniy menuturkan dari al-Hasan, bahwasanya Hasan berkata, “Panji Rasulullah saw berwarna hitam dinamakan Al-’Uqab.52

Ibnu Said al-Naas berkata:

وراية سوداء مربعة يقال لها العقاب وراية بيضاء يقال لها الزينة وربما جعل فيها الاسود
’Beliau saw memiliki panji berwarna hitam persegi empat, yang disebut dengan Al-’Uqab. Beliau saw juga memiliki panji berwarna putih, yang diberi nama az-ziinah, kadang-kadang warnanya hitam’.

Ia  juga mengatakan:

وقال الحافظ أبو محمد الدمياطي قال يوسف ابن الجوزى روى أن لواءه أبيض مكتوب فيه لا إله إلا الله محمد رسول الله
“Al-Hafidz ad-Dimyatiy berkata, “Telah berkata Yusuf bin al-Jauziy, telah diriwayatkan bahwa bendera Rasulullah saw berwarna putih, dan bertuliskan ‘La Ilaha illa al-Allah Muhammad Rasulullah’.57

Di dalam Kitab Khulashah Sair Sayyid al-Basyar, Imam Abu Ja’far al-Thabariy menuturkan bahwasanya:

وكان له راية سوداء مخملة يقال لها العقاب وكان لواءه أبيض وربما جعلت الأولوية من خمر نسائه صلى الله عليه وسلم
“Rasulullah saw memiliki sebuah panji berwarna hitam dari kain beludru, yang dinamakan al-‘Uqab.  Sedangkan bendera beliau berwarna putih, dan kadang-kadang bendera tersebut dibuat dari kerudung isteri-isteri Nabi saw”. [Imam Al-Thabariy, Khulashah Sair Sayyid al-Basyar , Juz 1, hal. 175]

Ukuran Bendera dan Panji

Tidak ada nash yang menjelaskan kepada kita ukuran panji Rasulullah saw, dari sisi panjang, lebar, maupun ukurannya.  Berapa hasta dan berapa jengkal, ataupun ukuran-ukuran lain yang dikenal di masa Rasulullah saw. Sebagian besar nash hanya menyatakan bahwa panji Rasulullah saw berbentuk persegi empat. 

Imam Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits dari al-Bara’ bin ‘Azib ra, bahwasanya beliau pernah ditanya tentang bentuk panji Rasulullah saw, lalu beliau menjawab:

كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ.
“Bendera Rasulullah saw berwarna hitam, persegi empat, dan terbuat dari namirah (kain wol)”.[HR. Imam Ahmad (4/297), Abu Dawud (3/32) (2591), Tirmidziy (4/196) (1680), An Nasaaiy dalam al-Kubra (5/181), Abu Ya’la (3/255), (1702), Thabaraniy dalam al-Ausath (5/81]

Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidziy menuturkan dari Ibnu ‘Abbas ra, bahwasanya beliau berkata:

كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم سوداء مربعة لون نمرة.
“Panji Rasulullah saw berwarna hitam, persegi empat, dan terbuat dari kain wol halus”.[HR. Imam Abu Dawud dan Tirmidziy]

Imam Ash Shan’aniy dalam Kitab Fath al-Ghaffaar al-Jaami’ li Ahkaam Sunnah Nabiyyinaa al-Mukhtaar, menuturkan hadits dari al-Bara’ bin ‘Azib di atas dan menyatakan bahwa Imam Tirmidziy menyatakan:

هذا حديث حسن غريب لا نعرفه إلا من حديث ابن أبي زايدة.
“Hadits ini hasan gharib, dan kami tidak mengetahui kecuali dari haditsnya Ibnu Abi Zaayidah.[ Imam Ash Shan’aniy, Fath al-Ghaffaar al-Jaami’ li Ahkaam Sunnah Nabiyyinaa al-Mukhtaar, Juz 4, hal. 1762]

Al-Kattaniy dalam al-Taraatiib al-Idaariyyah menyatakan:

خرج إسحاق بن إبراهيم الرملي في الإفراد من أحاديث بادية الشام من طربق حرام بن عبد الرحمان الختعمي عن أبي زرعة الفزعي ثم التمالي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم عقد له راية رقعة بيضاء ذراعا في ذراع هذا لفظ ابن منده وفي رواية الدولابي راية بيضاء وقال اذهب يا أبا زرعة إلى قومك فناد فيهم من دخل تحت راية أبي زرعة فهو آمن ففعلت

“Ishaq bin Ibrahim ar-Ramliy mengeluarkan sebuah hadits dari seseorang penghuni gurun pasir di Syam, dari jalur Haraam bin ‘Abdirrahman al-Khats’amiy dari Abu Zar’ah al-Qaza’iy, lalu al-Tamaaliy, di sana disebutkan, "Rasulullah saw telah menyerahkan kepada ‘Abu Zur’ah sebuah panji berwarna putih yang ukurannya sehasta kali sehasta".  Lafadz seperti ini sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Mundah. Dalam riwayatnya ad-Duulaabiy disebutkan, ‘Panjinya (raayah) berwarna putih’. Lalu Nabi saw bersabda, “Pergilah wahai Abu Zur’ah ke kaummu, lalu serulah mereka, “Barangsiapa berada di bawah panjinya Abu Zur’ah, maka ia mendapatkan perlindungan. Lalu aku melaksanakannya”.70 

Riwayat di atas menunjukkan ukuran panji di masa Rasulullah saw, yakni sehasta kali sehasta. Ini juga berarti, bahwa ukuran bendera Rasulullah saw lebih besar lagi.  Sebab serban –yang digunakan untuk bendera—ukurannya lebih panjang dari pada sehasta.

Tulisan Pada Bendera

Di dalam banyak hadits dituturkan, bahwasanya liwaa’ (bendera besar) Rasulullah saw ditulisi dengan La ilaha illa al-Allah Mohammad Rasuul al-Allah. Terdapat sebuah keterangan yang dituturkan oleh Imam Thabrani dan Abu Syaikh dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas, bahwa bendera Rasulullah saw bertuliskan lafadz ‘La ilaha Illa Al-Allah Mohammad Rasul al-Allah’.

Imam Thabaraniy menuturkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas ra, bahwasanya ia berkata:

كانت راية رسول الله سوداء ولواؤه أبيض مكتوب عليه لا إله إلا الله محمد رسول الله لا يروى هذا الحديث عن بن عباس إلا بهذا الإسناد تفرد به حيان بن عبيد الله
“Panji (raayah) Rasulullah saw berwarna hitam, sedangkan benderanya (liwa’) berwarna putih, dan tertulis di dalamnya kalimat Laa Ilaha Illa al-Allah Mohammad Rasulullah”. Hadits ini tidak diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra kecuali dengan isnad ini.  Hayyan bin ‘Ubaidillah menyendiri].

Al-Kattaaniy berkata1:

فالحديث في مسند أحمد والترمذي عن ابن عباس ومثله عند الطبراني عن بريدة الأسلمي وعند ابن عدي عن أبي هريرة أيضا
‘Hadits ini juga terdapat dalam musnad Imam Ahmad dan  Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas. Riwayat senada juga dituturkan oleh Imam Thabarani dari Buraidah al-Aslami, dan Ibnu ‘Adiy dari Abu Hurairah.2

Kesimpulan

Dari seluruh keterangan di atas dapatlah disimpulkan sebagai berikut;
(1) Al-‘Alam adalah al-liwaa’ al-a’dham (bendera besar). Sedangkan ar-raayaat adalah panji yang secara khusus dimiliki oleh setiap kabilah atau tiap divisi pasukan, dan lain-lain.  Panji semacam ini jumlahnya sangat banyak. Sedangkan liwaa’ (bendera) jumlahnya hanya satu, tidak banyak. Liwaa’ (bendera) adalah bendera resmi Daulah Islamiyyah di masa Rasulullah saw dan para Khalifah setelah beliau saw.  Liwa adalah bendera besar berwarna putih dan di tengahnya terdapat tulisan "laa ilaha illa al-Allah, Mohammad al-Rasuul al-Allah".
Kesimpulan semacam ini diketengahkan oleh Imam al-Sarakhsiy, dan dikuatkan dalam syarah Kitab As-Sair al-Kabir, karangan Imam Muhammad bin al-Hasan as-Syaibaniy, murid dari Imam Abu Hanifah. Disana disimpulkan:

اللِّوَاءُ اسْمٌ لِمَا يَكُونُ لِلسُّلْطَانِ ، وَالرَّايَةُ اسْمٌ لِمَا يَكُونُ لِكُلِّ قَائِدٍ تَجْتَمِعُ جَمَاعَةٌ تَحْتَ رَايَتِهِ... وَاللِّوَاءُ لَا يَكُونُ إلَّا وَاحِدًا فِي كُلِّ جَيْشٍ ، وَرُجُوعُهُمْ إلَيْهِ عِنْدَ حَاجَتِهِمْ إلَى رَفْعِ أُمُورِهِمْ إلَى السُّلْطَانِ .فَيُخْتَارُ الْأَبْيَضُ لِذَلِكَ لِيَكُونَ مُمَيَّزًا مِنْ الرَّايَاتِ السُّودِ الَّتِي هِيَ لِلْقُوَّادِ
‘Liwaa adalah bendera yang berada di tangan penguasa. Ar-Raayah, adalah panji yang dimiliki oleh setiap pemimpin divisi pasukan, dimana semua pasukan yang ada dalam divisinya disatukan di bawah panji tersebut. Liwaa hanya berjumlah satu buah untuk keseluruhan pasukan. Liwaa digunakan sebagai patokan pasukan ketika mereka merasa perlu untuk menyampaikan keperluan mereka ke hadapan penguasa (Imam). 

2) Liwaa dipilih berwarna putih. Ini ditujukan agar ia bisa dibedakan dengan panji-panji berwarna hitam yang ada di tangan para pemimpin divisi pasukan.8
Panji Rasulullah saw berwarna hitam, dan di dalamnya ada warna putih. Panji ini terbuat dari kain wool dan kain-kain yang dikenal oleh bangsa Arab. Oleh karena itu panji itu terlihat didominasi warna hitam. Orang yang melihat dari dekat akan mengatakan bahw panji Rasulullah saw putih, karena ada dua warna yang sama yakni hitam dan putih. Orang yang melihat panji itu setelah perang akan mengatakan bahwa panji beliau saw agak keputih-putihan. Sebab, warna panji tersebut terlihat berwarna debu tanah, atau kuning.
*(Gus Syams)*

0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online