[iklan]
daftar-harga-wiremesh-agustus-2019

bersentuhan ataupun bersalaman dengan lawan jenis

HT membolehkan bersentuhan ataupun bersalaman dengan lawan jenis?????

Memang sulit untuk mencari celah tuduhan bahwa HT membolehkan berciuman dengan lawan jenis. Jangankan berciuman, berjabat tangan sekalipun sulit.... Karena memang fakta didalam kiprah aktifitas HT antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom sangat ketat aturannya. Tetapi walau demikian, tetap saja sejak dulu disebarkan majalah penebar fitnah dari WAMY (World Association Muslim World) Riyadh, sebagai referensi, bahwa HT menggalalkan hubungan laki-laki dan wanita tanpa batas.

Sementara fakta dilapangan untuk menjadikan kabar fitnah buku itu sebagai legitimate sangat sulit. Karena HT didalam aktifitasnya selalu memisahkan aktifitas akhwat dan ikhwan. Bahkan kegiatan super besar di senayan sekalipun tidak ditemui ada laki-laki dan perempuan yang ikhtilath. Apalagi berciuman.

Ada tulisan kelompok munafiq liberal menulis tentang musafahah atau bersentuhan dalam bersalaman sampai meminjam gambar saudara kita TIFAUL Sembiring... (sebagaimana ada pada gambar ini.

Orang yang jujur dan tidak memilik hati yang nifaq dan dengki akan tercengang jika membaca kitab Nizhom fil ijtima'i yang mana syabab HT sangat strik membatasi hubungan isu ini diwilayah umum.

____________________ copast dari Syabab___:

Memaknai Kata لمس Harus Sesuai Konteks. Jika Tidak, Dipastikan Anda Mblarah. Anda Berhalusinasi. Atau Anda Orangnya Fiktor (Fikiran Kotor alias Jorok).

Tidak semua kata لمس diartikan menyentuh, meraba, atau bukan kedua-duanya, atau kedua-duanya. Ada yg sekedar sentuhan biasa, ada yang parah, dan seterusnya. Jadi harus sesuai konteks dan siyaq kalimat.

Kita perhatikan beberapa contoh berikut:

(معجم الوسيط)

لَمَسَ :

1. Kata لمس berarti Menyentuh (biasa) dengan tangan.
لَمَسَهُ  لَمَسَهُُ(والكسر) لَمْسًا: بيده بيده فهو لامِس.

2. Kata لمس berarti Meraba (seorang wanita). bahkan bisa berarti menggauli.
ولمس المرأْةَ: باشرها

3. Kata لمس berarti Menyambar pandangan mata
يقال: لكذا شُعاعٌ يكاد يَلْمِس البصرَ: يخطَفه أو يَطمِسه.

=====
Konteks menyentuh perempuan tanpa syahwat (yang dikatakan oleh an-Nabhani) adalah menyentuh biasa. Hal ini dapat dilihat dari kalimat sebelum dan kalimat setelahnya, begitu juga dapat dimengerti dari topik pembahasannya, yaitu jabat tangan (Mushafahah). Artinya, orang yang sengaja menerjemahkan dg "meraba", di mana dalam bahasa Indonesia konotasinya saru/sronok, dia telah salah besar karena memotong kalimat dari topik dan siyaqnya. Atau jangan-jangan orangnya memang fiktor??!!

Coba kita perhatikan ayat berikut:

ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا)
[Surat An-Nisa' 24]

Jika kita terjemahkan ngawur, melepaska nnya dari siyaq ayat, maka bisa mblarah-mblarah pol...!!
Coba kita terjemah harfiah ya...

"Dan dihalalkan bagi kalian apa-apa yang selain itu (wanita-wanita mahram) untuk kalian CARI/TUJU/Jadikan Obyek dengan HARTA KALIAN.............  Maka apa saja yg KALIAN NIKMATI dari mereka maka berikanlah kepada mereka UPAHnya...... ".

Coba perhatikan!! apa gak rusak ayat tersebut kalau diterjemahkan lost konteks, apalagi yang nerjemah orangnya beraliran FIKTOR Radikal dan jualan fiktornya ini.

Contoh lain:

(وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا ۚ أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا)
[Surat An-Nisa' 20]

Jika diterjahmahkan ala si FIKTOR maka:
Jika kalian MAU GANTI PASANGAN menempati PASANGAN yg lain......

ajur gak??!! hehe..

Coba lihat hadits berikut:

روى البخاري (2789) ومسلم (1912) عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ عَلَى أُمِّ حَرَامٍ بِنْتِ مِلْحَانَ فَتُطْعِمُهُ وَكَانَتْ أُمُّ حَرَامٍ تَحْتَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ فَدَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَطْعَمَتْهُ وَجَعَلَتْ تَفْلِي رَأْسَهُ فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ
Ummu Haram (dia bukan siapa-siapa Nabi saw). ْNabi pernah tidur di rumahnya, Nabi dijamu, dan Ummu Haram pun metani kepala Nabi saw. Kemudian Nabi pun tidur....

Hadits ini kalau ketemu si FIKTOR bisa difreming: Nabi bermesaraan dg Ummu Haram. Ummu Haram bahkan sampe meraba-raba kepala Nabi dan membelai rambut beliau....

Dasar fiktor!!! Musuh fiktor, Nabi aja bisa gubrah!! Ancor pessenah telor!!!

Nah, begitulah.. Maka orang yg cacat secara syakhshiyyah, di mana dia berbohong dan berdusta dan menjual bohongnya, dan dia pernah juga memuji seorang syekh sebagai pakar, tapi giliran syekh tersebut membela an-Nabhani, dia balik merendahkan syekh tersebut... Lha wong mblarah kayak gini koq dijadiin pendekar. Makanya wajar kalau jagat persilatan ilmiah jadi isine peceren!!
________________________

0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online