[iklan]
daftar-harga-wiremesh-agustus-2019

Islam: Solusi, Bukan Sumber Masalah

ISLAM ITU SOLUSI, BUKAN SUMBER MASALAH

Sebagian manusia kadang berani bersikap lancang. Merasa tahu hakikat yang baik dan yang buruk bagi manusia. Bahkan merasa lebih tahu dari Allah SWT. Lalu berani menyingkirkan petunjuk Allah SWT (Islam). Bahkan  mengajak manusia lainnya untuk menyingkirkan Islam dari kehidupan mereka.

Padahal Allahlah Yang Mahatahu atas hakikat yang baik dan yang buruk untuk manusia. Sebaliknya, pandangan dan penilaian manusia sering salah. Acapkali manusia memandang sesuatu itu baik sehingga dia sukai. Padahal sejatinya hal itu buruk bagi dirinya. Sebaliknya, manusia acapkali memandang sesuatu itu buruk sehingga dia benci. Padahal hakikinya sesuatu itu justru baik bagi dirinya. Allah SWT berfirman:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui (TQS al-Baqarah [2]: 216).

Imam Abu Manshur al-Maturidi di dalam Ta’wilât Ahli as-Sunnah menjelaskan, “WalLâhu ya’lamu wa antum lâ ta’lamûn bermakna: Allah mengetahui apa saja yang baik dan yang buruk untuk kalian pada masa depan, sementara kalian tidak tahu.”

Imam Fakhruddin ar-Razi di dalam Mafâtih al-Ghayb menyatakan, “Seolah Allah SWT berfirman: Hai hamba, ketahuilah bahwa pengetahuan-Ku lebih sempurna dari pengetahuan kalian. Karena itu sibuklah kalian menaati-Ku dan jangan menuruti tuntutan tabiat kalian.”

Imam Ibnu Katsir di dalam Tafsîr Ibni Katsîr juga menegaskan, “WalLâh ya’lamu wa antum lâ ta’lamûn bermakna: Dia Mahatahu atas akibat perkara kalian. Dia pun Mahatahu atas apa saja yang di dalamnya ada kebaikan bagi kalian di dunia dan akhirat. Karena itu penuhilah seruan-Nya dan patuhlah perintah-Nya supaya kalian mendapat petunjuk.”
Dengan demikian apa saja yang Allah berikan untuk manusia di dunia ini—berupa syariah-Nya—pasti baik untuk manusia dan kehidupan. Yang harus dilakukan oleh manusia tidak lain adalah menaati dan sibuk merealisasikan syariah itu di tengah-tengah kehidupan mereka.

Ghirah Umat Islam

Ahir-akhir ini ghirah (semangat) umat Islam untuk memenuhi seruan Allah SWT dari hari ke hari makin meningkat. Umat Islam pun makin bersemangat untuk mengamalkan dan mengupayakan penerapan syariah-Nya di tengah-tengah kehidupan mereka.

Sayang, di tengah suasana ghirah umat itu, beberapa waktu lalu muncul gagasan agar pelajaran agama dihilangkan dari mata ajaran di sekolah. Agama cukup diajarkan oleh orangtua masing-masing atau oleh guru agama di luar sekolah. Alasannya, jika agama diajarkan di sekolah maka siswa akan dibedakan ketika pelajaran agama. Dengan itu sekolah tanpa sadar telah menciptakan perpecahan. Pelajaran agama di sekolah juga dinilai menguatkan identitas agama. Menurut sang penggagas, jika agama dijadikan identitas maka ia akan menguatkan radikalisme, sementara radikalisme itu menjadi biang kehancuran negeri ini.

Gagasan itu tentu saja mendapat banyak penolakan. Meski begitu, jika ditelusur, gagasan itu bukanlah yang pertama kali. Sudah muncul beberapa kali sebelumnya. Artinya, lontaran gagasan itu bukanlah hal baru. Substansi dari gagasan itu tidak lain adalah sekularisme dan sekularisasi pendidikan khususnya. Seruan itu berusaha menempatkan agama sebagai urusan pribadi (privat dan personal). Seruan itu juga mengajak agar agama tidak diikutkan dalam kehidupan publik, termasuk harus disingkirkan dari kehidupan politik.

Seruan ini jelas tertolak dalam Islam. Pasalnya, kita justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah, secara keseluruhan, secara total. Allah SWT pun memperingatkan kita agar tidak mengikuti langkah-langkah setan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Seruan untuk menghapus pelajaran agama (Islam) dari kurikulum sekolah jelas merupakan bagian dari mengikuti langkah dan jalan setan. Pasalnya, itu artinya kita diseru untuk tidak masuk Islam secara kaffah. Jika seruan itu keluar dari orang kafir tentu wajar. Sebaliknya, tentu sangat aneh jika seruan itu keluar dari—atau didukung oleh—seorang Muslim.

Karena itu gagasan agar agama (Islam) tidak perlu diajarkan di sekolah mudah untuk dipahami sebagai upaya melakukan deislamisasi. Tujuannya jelas untuk memadamkan ghirah kaum Muslim dan menjauhkan mereka dari Islam. Tidaklah berlebihan jika gagasan itu dinilai sebagai ekspresi islamophobia.

Islam: Solusi, Bukan Sumber Masalah

Selama puluhan tahun tak ada persoalan dengan agama di negeri ini, khususnya Islam sebagai agama dengan pemeluk mayoritas. Baru beberapa tahun belakangan saja dimunculkan isu seolah-olah agama (Islam) atau seruan dan kajian keislaman menjadi pemicu radikalisme, perpecahan, dsb. 

Padahal radikalisme bukanlah persoalan inheren dalam Islam. Isu atau tuduhan radikalisme lebih merupakan framing dari pihak luar untuk menyudutkan Islam atau menghalangi geliat umat Islam dan kebangkitan mereka. Bisa diduga, tujuan akhir dari isu radikalisme itu adalah untuk makin menjauhkan Islam dari kehidupan. Dengan itu Islam dan umat Islam tidak menghalangi-halangi agenda liberalisme dan penjajahan Barat. Itu persis seperti dulu penjajah Belanda menggunakan terma radikalisme untuk menyudutkan siapa saja—kebanyakan dari kalangan umat Islam—yang menentang penjajahan Belanda.

Begitu pun sekarang ini. Isu radikalisme awalnya dimunculkan dan terus dinyanyikan oleh Barat. Ini  seiring dengan mulai tampaknya kebangkitan umat Islam dan penolakan mereka terhadap ideologi kapitalisme dan liberalisme serta penjajahan Barat. Lalu isu radikalisme itu disuntikkan ke tubuh kaum Muslim di berbagai negeri Islam dengan berbagai jalan dan cara. Akhirnya, isu radikalisme ini pun dinyanyikan dan dimainkan oleh mereka yang secara sadar ataupun tidak menjadi agen Barat.

Tuduhan Islam menjadi penyebab perpecahan dan persoalan juga hanya sekadar tuduhan tanpa bukti. Kekisruhan politik yang ada tidak pernah terbukti disebabkan oleh Islam. Faktanya, tak jarang kisruh diakibatkan oleh proses demokrasi, kecurangan dan persaingan memperebutkan kekuasaan yang menggunakan cara-cara machiavelis. Banyaknya korupsi juga tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam. Sudah banyak sekali ahli yang mengatakan, maraknya korupsi di antara faktor utamanya adalah proses demokrasi yang mahal.

Adanya ketimpangan antara warga dan antardaerah. Rakyat tidak merasakan kemakmuran dari melimpahnya kekayaan alam. Makin menggunungnya utang Negara. Makin kuatnya cengkeraman asing dan kapitalis. Adanya segudang problem ekonomi. Semua itu pun bukan karena Islam, tetapi justru karena penerapan sistem di luar Islam, yakni kapitalisme-liberalisme.

Artinya, berbagai kerusakan yang terjadi itu bukan karena Islam, tetapi justru karena penerapan sistem selain Islam, dengan meninggalkan Islam dan syariahnya. Fakta-fakta jelas menunjukkan yang demikian. Allah SWT pun sudah memperingatkan kita dalam firman-Nya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta… (TQS Thaha [20]: 124).

Makna, “berpaling dari peringatan-Ku” adalah menyalahi perintah-Ku dan apa saja yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, V/323).

Berbagai kerusakan yang terjadi itu tentu mendatangkan akibat buruk bagi masyarakat secara keseluruhan. Sejatinya itu baru sebagian dari akibat kerusakan yang disebabkan manusia berpaling dari Islam dan syariahnya. Allah SWT menimpakan sebagian dari akibat kerusakan itu agar manusia bertobat dengan kembali pada Islam dan syariahnya. Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS ar-Rum [30]: 41).

Khatimah

Jelas, gagasan untuk menghapus pelajaran agama  dari kurikulum sekolah hanya akan menambah dan memperparah kerusakan. Ada pelajaran agama saja, banyak terjadi problem di masyarakat, khususnya di kalangan pelajar. Apalagi jika pelajaran agama dihapus. Jika ingin memperbaiki kondisi pelajar dan kehidupan masyarakat, pelajaran agama mestinya ditambah lagi sebagai jam pelajaran khusus ataupun diinternalisasikan dalam berbagai pelajaran lainnya.

Lebih dari itu, untuk menyelesaikan aneka problem dan memperbaiki kehidupan masyarakat, yang harus dilakukan justru kembali pada jalan Islam, yaitu dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah SWT di atas. Inilah sesungguhnya yang menjadi kewajiban dan tangung jawab umat Islam yang harus segera diwujudkan di tengah-tengah kehidupan.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb.

—*—

0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online