[iklan]
-

Sikap mental pemimpin Islam di peradaban Islam

 *Energizer Sahur #196*


_*Tomorrow Is Senin*_

_*Senin Is Fasting Time*_

_*Shaum Is Back Again*_

_*Yeaaayyy*_



🍽️🍽️🍽️🍽️🍽️🍽️🍽️🍽️


*Mengenal Sosok Shahabiah r.a.*


*_Ummu Syuraik ra., Wanita yang Diberi Minum dari Langit_*


Dakwah adalah kewajiban yang dibebankan pada setiap individu muslim. Berkaca pada kisah para sahabat dan shahabiyah Rasulullah ﷺ, perjuangan dakwah mereka patut dijadikan inspirasi dakwah hari ini. Di antara kisah itu ada Ummu Syuraik ra., potret pejuang yang tidak kenal takut dan lelah dalam mendakwahkan Islam.


Ia mengusung amanah dakwah dengan sepenuh hati dan keluar dari rutinitas kehidupannya untuk menyebarkan dakwah mengajak manusia menyembah Allah Swt. Berkat kegigihannya, Allah membukakan hati setiap manusia menerima Islam melalui lisan dan kesungguhannya.


Ummu Syuraik ra. adalah seorang dai yang memiliki nama asli Ghazyah binti Jabir bin Hakim ad-Dausiyyah. Ia wanita dari kaum Quraisy, tepatnya dari bani Amir bin Lu’ai, berasal dari kabilah Ghathafan, yang saat itu menjadi salah satu kabilah paling disegani oleh bangsa Arab.


Hati Ummu Syuraik ra. tersentuh Islam sejak masih tinggal di Makkah. Sejak itu, beliau mengabdikan seluruh hidupnya untuk Islam. Meski hambatan dakwah datang dari kaum Quraisy, beliau tidak pernah merasa bosan dan lelah menyampaikan Islam. Secara diam-diam, ia berdakwah di antara kaum wanita Quraisy. Dakwahnya pun membuahkan hasil maksimal. Banyak wanita Quraisy tertarik memeluk Islam.


Ibnu Abbas ra. menuturkan, “Hati Ummu Syuraik tersentuh Islam sejak masih tinggal di Makkah maka ia pun memeluknya. Setelah itu, ia mulai menemui wanita-wanita Quraisy secara diam-diam untuk mengajak mereka memeluk Islam. Namun, aktivitasnya terendus oleh para pemuka Makkah sehingga mereka menangkapnya dan berkata, ‘Seandainya tidak mempertimbangkan kaum kerabatmu maka kami tidak akan segan-segan mempermalukanmu. Kami akan mengembalikanmu kepada mereka.’”


Ummu Syuraik menuturkan pengalamannya menghadapi ujian dakwah tersebut. “Mereka menaikkanku ke atas unta yang tidak dilengkapi dengan pelana atau lainnya. Lalu membawaku selama tiga hari tiga malam tanpa memberiku makan atau minum. Pada suatu ketika mereka beristirahat, biasanya jika mereka beristirahat, mereka membiarkanku kepanasan. Mereka juga tidak memberiku makan atau minum, sampai tiba waktu melanjutkan perjalanan. Dalam kesempatan istirahat, kali ini, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin menetes di tubuhku, lalu menetes kembali, setelah kuraba ternyata itu adalah tetesan air dari sebuah ember. Maka, aku segera minum sedikit, lalu ember terangkat dan kembali lagi, aku mengambilnya lagi dan minum sedikit. Lalu, ember itu terangkat dan kembali lagi. Kejadian itu terus berulang beberapa kali, dan aku meminumnya sedikit demi sedikit sampai puas. Kemudian, aku membasuh seluruh tubuh dan pakaianku. Ketika orang-orang yang membawaku terbangun, mereka terkejut karena melihat bekas tumpahan air ada di mana-mana dan mendapatiku lebih segar dari sebelumnya. Mereka menudingku, ‘Engkau telah membuka ikatan, lalu mengambil wadah air kami dan meminumnya.’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak melakukannya. Melainkan yang terjadi adalah begini dan begini.’ Mereka berkata polos, ‘Jika pengakuanmu benar, maka agamamu lebih baik dari agama kami.’ Untuk membuktikan pengakuanku, mereka memeriksa wadah air itu, ternyata semuanya tetap seperti semula. Maka saat itu juga, orang-orang musyrik yang membawaku itu menyatakan diri masuk Islam.‘”


Begitulah cara Allah memuliakannya. Ummu Syuraik ra. telah menunjukkan keteladanan sangat baik dalam menjalankan dakwah Islam. Keteguhannya dalam memegang keimanan dan keyakinan layak dicontoh. Tidak pernah sedikit pun bersikap lembek atau lemah untuk melepaskan akidahnya agar bisa menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan kematian.


Hal itulah yang mestinya menjadi prioritas hidup bagi para pengemban dakwah. Kegigihan berjuang untuk Islam dan keteguhan memegang bara iman. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang dengan perantaraanmu, maka itu lebih baik bagimu daripada mendapatkan unta merah.” (HR Muttafaq ‘alaih). Wallahualam.


Wallahu a'lam bishsawab


🕋🕋🕋🕋🕋🕋🕋


_Masya Allah, tak ada kisah penyiapan karakter sikap mental pemimpin Islam di sepanjang kisah emas peradaban Islam. Kecuali di dalamnya ada bi'ah shalihah, shalat tahajud, dhuha, shaum sunnah dan tadarus..._


_Sungguh bi'ah shalihah, shaum sunah, shalat tahajud, dhuha dan tadarus itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bi'ah shalihah pemimpin sejati dan ahli ilmu..._


*Ayoo Semangat karena Allah Swt* ✊✊✊

0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Arsitektur dan Konstruksi

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online


Didukung oleh: Suwur - Tenda SUWUR - OmaSae - Blogger - JayaSteel - Global Mulia Perkasa - TAS Omasae - Furniture - Rumah Suwur - Amanah Galvalum -

- -
- : -
:

-