[iklan]
daftar-harga-wiremesh-agustus-2019

Yuk Memahami Hadlarah dan Madaniyah

Hadlarah dan Madaniyah.

Hadlarah.
Hadlarah itu bisa juga berarti pemahaman. Yang pemahaman itu ada kaitannya dengan agama-agama tertentu. Juga ada kaitannya dengan ideologi-ideologi tertentu. Adapun maksud pemahaman disitu adalah cara pandang ideologi/agama tertentu tentang kehidupan, begitulah kalau secara istilah. Kalau secara kata hadlarah itu artinya peradaban.

Contohnya di dunia ini ada agama Islam, ada agama Kristen, dan banyak agama lain. Dan masing-masing agama pasti memandang sesuatu itu berbeda-beda. Misalnya kalau di dalam Islam babi itu haram, sedangkan diagama lain babi itu disebut halal/boleh dimakan. Lah pamahaman terhadap babi itulah namanya hadlarah.

Contoh lain, tambahan pada hutang adalah Riba menurut Islam, kalau kita ngutang 1jt dari orang, berarti besok harus bayarnya 1jt juga ke orang itu. Gak boleh si pemberi hutang minta jadi 1,2jt karena kita bayarnya nyicil misalnya, itu nggak boleh dalam Islam! Itu namanya riba! Haram hukumnya! Tapi dalam ideologi kapitalisme itu boleh. malah diwajibkan. Lah persepsi/cara pandang yang berbeda terhadap hutang-piutang, itulah namanya hadlarah.

So,
Sekumpulan pemahaman dalam Islam, itu namanya Hadlarah Islam.
Sekumpulan pemahaman dalam Kristen, itu namanya Hadlarah Kristen.
Sekumpulan pemahaman dalam Budha, itu namanya Hadlarah Budha.
Sekumpulan pemahaman dalam Sekulerisme, itu namanya Hadlarah Sekuler.
Sekumpulan pemahaman dalam Atheisme, itu namanya Hadlarah Atheis.
Sekumpulan pemahaman dalam Pluralisme, itu namanya Hadlarah Pluralisme.
Sekumpulan pemahaman dalam Kapitalisme, itu namanya Hadlarah Kapitalisme.
dan seterusnya masih banyak lagi,
Tentunya kita hanya boleh mengambil hadlarah Islam saja karena hadlarah Islam itu datangnya dari Allah dan RasulNya, sedangkan hadlarah lain itu karang-karangan dan tebak-tebakan manusia saja yang suka sok merasa bisa ngatur kehidupannya sendiri.

Kalau disuruh milih, pilih mana?ngambil ide yang dibuat oleh manusia yg punya banyak kelemahan dan bisa mati, atau milih aturan/ide yg telah ditetapkan oleh sang Pencipta yg menciptakan seluruh alam semesta yg maha hidup dan yg paling mengetahui tentang dirimu dan kehidupan? Yah pasti jelas harus ngambil ide dari Allah-lah, itulah Hadlarah Islam.

Madaniyah.
Kalau madaniyah itu artinya benda, benda yang bisa kita indera, bisa dilihat, dipegang, dirasakan, didengar dan dijilat (kayak biskuit or*o aja)  bentuk fisiknya ada, contohnya, apa saja yang ada di sekeliling kita misalnya biskuit,  handphone, baju, motor, obat dll itu semua madaniyah. pokoknya benda fisik yang bisa diindera itu namanya madaniyah.

Tapi madaniyah itu terbagi lagi menjadi dua, yg pertama ada madaniyah aam (umum) dan ada madaniyah khas (khusus), bedanya
kalau madaniyah aam itu benda normal yang biasa aja yg prosesnya tidak dipengaruhi oleh hadlarah. Madaniyah aam ini ibarat 'kambing kita yg tersesat' kita bisa langsung ambil dimanapun ia berada. Seperti Hp, baju, laptop, dan lain sebagainya kita bisa menggunakannya meski yg membuat orang kafir atau orang atheis sekalipun.
Sedangkan madaniyah khas, itu terdapat hadharah non-Islam. contohnya kalung salib, patung Budha, topi kerucut tahun baru dll. Itulah benda-benda yang proses pembuatannya dipengaruhi cara pandang hadlarah non-Islam dan menggunakannya dihukumi haram.

Kalau udah paham ini insya Allah kita bisa membedakan mana benda yang haram dan halal. tidak seperti pendahulu kita dulu ketika dijajah Belanda. Saat itu, karena sebagian pembesar Belanda mengenakan  jas dan dasi, kemudian dasi itu dikatakan sebagai benda yang haram, padahal kan tidak! karena dasi itu termasuk madaniyah aam bukan madaniyah khas. dan masih banyak lagi kasus serupa lainnya seperti halnya kasus hukum celana jeans, batik, udeng, kemeyan (seperti cerita difilm Sunan Kali Jogo) dan lain sebagainya.

Dengan sudah faham tentang madaniyah aam dan khas begini, Kita jadi tahu sekiranya suatu benda itu tidak mengandung pandangan hidup tertentu yang bukan Islam, halal, boleh-boleh saja dipakai. Apatalagi kalau nggak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Assunnah, ya silakan saja.

Kisah Adi bin Hatim Membuang Kalung Salibnya

Mari sejenak belajar dari Adi bin Hatim.
Adi bin Hatim ini merupakan salah seorang sahabat Rasulullah yang sebelum masuk Islam, agamanya adalah Nasrani. Suatu ketika Rasulullah melihat Adi bin Hatim masih memakai kalung salib di lehernya, lalu Rasulullah mendatanginya kemudian membacakan surat At-Taubah ayat 31.
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan...."
[TQS. At-Taubah (9): 31]

Tapi Adi bin Hatim malah bilang, "Ih, aku nggak pernah kok nyembah rahib-rahib maupun pendeta-pendeta itu.." Kemudian Rasulullah menjawab, "Apakah rahibmu menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, dan kamu menghalalkannya? Dan apakah rahibmu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, kemudian kamu mengharamkannya?"

Mendadak Adi bin Hatim sadar, dan ngaku salah, kemudian bertaubat, lalu ia membuang kalung salibnya itu.

Kisah tersebut selaras dengan kaidah syara’ yang berbunyi, Al-ashlu fil asy-yaa’ al-ibaahah, ma'alam yarid Daliilut-Tah-rim. Artinya, hukum asal suatu benda adalah mubah, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.

Dan selaras pula dengan hadits yang Rasulullah sampaikan, "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud)

lebih lengkap bisa dikaji di buku
An-Nabhani, Taqiyuddin. Peraturan Hidup Dalam Islam (an-Nidzam al-Islam).

#Hadlarah
#Madaniyah

0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online