[iklan]
daftar-harga-wiremesh-agustus-2019

penentang Khilafah hanya berani berkoar ketika tidak ada orang HTI dihadapannya

ANTARA GATOT NURMANTYO DAN HTI
____
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Ini adalah tulisan pertama saya sejak dua pekan yang lalu, pasca diblokirnya akun medsos saya untuk yang ketiga kalinya. Tiga tulisan yang sebelumnya saya bagikan melalui akun yang baru ini hanyalah tulisan lama yang sengaja saya unggah kembali. Alangkah baiknya tulisan-tulisan saya kedepan, oleh antum sekalian, dicopas saja untuk dibagikan. Karena saya menduga sepertinya akun baru yang ini pun tidak akan bertahan lama.

Para penghamba dunia sudah kehabisan akal untuk membendung gelombang perjuangan kami. Mereka merasa tak berdaya jika harus perang pemikiran langsung di dunia terbuka. Berbagai propaganda yang mereka buat tidak mampu menahan antusiasme umat untuk bergabung dengan kami. Fitnah mereka terhadap bendera Tauhid tidak mampu mempengaruhi umat untuk tidak mengibarkannya.

Sujiwo Tejo mengungkapkan, bahwa kenapa saat ini banyak orang menutup pintu untuk diskusi dengan HTI. Apa karena mereka takut digarong (kalah) pemikirannya? Seseorang dari kalangan mereka sendiri menyatakan, bahwa tidak cukup hanya dengan satu atau dua orang untuk meredam pemikiran HTI. Dibutuhkan banyak orang untuk turut meredamnya.

Menurut orang yang berinisial MR tersebut, teman-temannya hanya berani berkoar di dunia maya, tetapi ketika ada ajakan diskusi terbuka justru mereka tidak ada yang berani untuk menanggapinya. Saling lempar kesana kemari. Seharusnya, siapa yang berani melempar rumah orang, maka ia harus berani mempertanggung jawabkannya.

Memang seperti itulah kenyataannya. Para penentang Khilafah hanya berani berkoar ketika tidak ada orang HTI dihadapannya. Jangan heran apabila acara-acara mereka yang mengangkat diskusi seputar Khilafah pun jarang sekali mereka yang berani mengundang pihak HTI nya. Mungkin mereka sadar, jika itu dilakukan justru hanya akan menjadikan mereka tenggelam dan ide Khilafah semakin diminati banyak orang.

Wajar saja apabila akhirnya mereka menutup pintu diskusi terbuka dengan kami. Bahkan untuk sekedar diskusi di dunia mayapun mereka gemeteran. Itulah sebabnya mereka membunuhi akun-akun kami satu persatu. Mereka bahagia sekali melihat akun para pejuang Khilafah bertumbangan, karena itu berarti kedunguan mereka tidak akan terlihat oleh banyak orang.

Hakikatnya, mereka menentang kami bukan karena Khilafah, bukan pula karena Pancasila. Karena faktanya, Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo pun mereka anggap sebagai provokator negara. Itulah sebabnya ia diberhentikan masa tugasnya secara tiba-tiba. Kefasihannya membaca Pancasila dan keseriusannya melakukan upacara bendera tidak dapat menyelamatkannya dari tuduhan "pengancam negara".

Saya kaget ketika mendengar ucapan itu dari seorang aktifis yang sangat anti Khilafah. Ia menuduh Pak Gatot yang tidak-tidak. Terkesan sekali ia begitu benci kepadanya. Caci maki dan umpatan mudah sekali keluar dari mulutnya. Dari sini saya meyakini, bahwa hakikatnya mereka bukan membela Pancasila, karena Pak Gatot pun tak luput dari kebenciannya.

Hakikatnya mereka hanya mendukung Para juragannya, yang menjanjikan sebuah pangkat dan kursi jabatan, yang mengucurkan uang sesuai dengan permintaan. Siapapun yang dianggapnya sebagai batu penghalang, maka ia tak segan untuk memfitnah dan menghantam. Gatot Nurmantyo dan HTI adalah contoh korbannya.

#Alumni212
#KhilafahAjaranIslam
Cirebon, 5 Juli 2019

0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online