[iklan]

DEFINISI Khilafah Ajaran Islam

KHILAFAH AJARAN ISLAM

Definisi Khilafah

Khilafah berasal dari “khalafa”, yang bermakna menggantikan yang lain.   Adapun menurut istilah para ulama, Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh umat dalam mengatur urusan agama dan urusan dunia.    Meskipun dengan redaksi yang berbeda-beda, ulama aswaja  sepakat  bahwa Khilafah adalah system pemerintahan yang tegak di atas ‘aqidah Islamiyyah, yang menempatkan seorang Khalifah sebagai pemimpin agung seluruh umat Islam, menerapkan Islam secara menyeluruh, dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.  Mereka juga sepakat bahwa al-Khilafah dan al-Imamah memiliki pengertian sama (sinonim).

Di dalam Kitab Ma`aatsir al-Inaafah fiy Ma’aalim al-Khilaafah, Imam Qalqasyandiy menyatakan:

اما الخلافة فهي في الاصل مصدر خلف....ثم أطلقت فى العرف العام على الزعامة العظمى, وهي الولاية العامة على كافة الامة, والقيام بأمورها و النهوض بأعبائها.
“Adapun “al-khilafah”, asalnya dari mashdar “khalafa” (mengganti)….. Lalu, kata khilafah ini disebut dalam konteks ‘urf umum dengan makna “kepemimpinan agung; yakni, kekuasaan umum atas seluruh umat, dan menegakkan urusannya dan melaksanakan tugas-tugasnya. [Imam al-Qalqasyandiy, Ma`aatsir al-Inaafah fi Ma’aalim al-Khilaafah, juz 1/9]

Imam Nawawiy, di dalam Kitab al-Majmuu’ menyatakan:

ومن ثم يأتي خطأ بعض المتكلمين في قولهم لو تكاف الناس عن الظلم لم يجب نصب الامام لان الصحابة رضى الله عنهم اجتمعوا على نصب الامام، والمراد بالامام الرئيس الا على للدولة، والامامة والخلافة وإمارة المؤمنين مترادفة، والمراد بها الرياسة العامة في شئون الدين والدنيا. ويرى ابن حزم أن الامام إذا أطلق انصرف إلى الخليفة، أما إذا قيد انصرف إلى ما قيد به من إمام الصلاة وإمام الحديث وإمام القوم.
“Lalu, ada kesalahan yang menimpa sebagian ahli kalam dalam perkataan mereka, seandainya manusia mampu terhindar dari kedzaliman, maka mereka tidak wajib mengangkat seorang Imam.  Pendapat ini salah, karena para shahabat ra telah bersepakat atas wajibnya mengangkat seorang Imam.  Yang dimaksud dengan al-Imam adalah pemimpin tertinggi bagi negara.  Al-Imamah, al-Khilafah, Imaarat al-Mukminiin adalah mutaraadif (sinonim).  Sedangkan yang dimaksud dengan al-Imamah adalah kepemimpinan umum (al-riyaasah al-‘aamah) dalam mengatur urusan agama dan dunia. Ibnu Hazm berpendapat bahwa kata “al-Imam”, jika disebut secara mutlak, maka pengertiannya adalah al-khalifah. Adapun jika disebut dengan taqyid (pembatasan) maka maknanya adalah sesuai dengan batasan tersebut, misalnya, imam sholat, imam al-hadits, dan imam suatu kaum”. [Imam An Nawawiy, Al-Majmuu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 19/191]

Ulama aswaja hanya berbeda pendapat dalam menentukan munasib (kedudukan) Khilafah; apakah khilafah itu wakil Allah, wakil Rasulullah saw, ataukah wakil umat Islam untuk menerapkan Islam dan mengatur urusan manusia.[Lihat Imam Qalqasyandiy, Ma`aatsir al-Inaafah fi Ma’aalim al-Khilaafah, juz 1/14-17] 

Sedangkan dalam konteks Khilafah sebagai sebuah sistem pemerintahan yang menjadikan Khalifah sebagai Imamul A’dham yang menerapkan Islam secara kaaffah, dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia, maka tidak ada ikhtilaf di dalamnya.   Kesimpulan semacam ini bisa disarikan dari definisi Khilafah yang dijelaskan ulama aswaja berikut ini:

Di dalam Kitab al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun menyatakan:

وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإماما .فأما تسميته إماماً فتشبيهاً بإمام الصلاة في اتباعه والاقتداء به، ولهذا يقال: الإمامة الكبرى. وأما تسميته خليفة فلكونه يخلف النبي في أمته، فيقال: خليفة بإطلاق، وخليفة رسول الله.
“Wakil Pemilik Syariah dalam menjaga agama serta mengatur urusan dunia disebut dengan Khilafah dan Imamah. Sedangkan yang menempati kedudukan itu adalah Khalifah atau Imam”.  Adapun penamaannya dengan Imam diserupakan dengan dengan imam sholat dalam hal wajibnya untuk diikuti dan dipanuti.  Oleh karena itu dinyatakan: al-Imamah al-Kubra (Kepemimpinan Agung).  Adapun penyebutannya dengan Khalifah, disebabkan karena ia menggantikan Nabi saw dalam (mengatur) urusan umatnya.  Dinyatakan: “Khaliifah secara mutlak dan Khalifah Rasulullah saw.”  [ Imam Ibn Khaldun, Al Muqaddimah, hal 190]

Imam Al Ramli menyatakan:

الخليفة هو الامام الاعظام, القائم بخلافة النبوة, فى حراسة الدين وسياسة الدنيا
“Khalifah itu adalah Imam agung yang menduduki jabatan khilafah nubuwwah dalam melindungi agama serta pengaturan urusan dunia.”[Imam Al Ramli Muhammad bin Ahmad bin Hamzah,  Nihayat al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaj fil Fiqhi ‘ala Madzhab Al Imam Al Syafi’i, juz 7/289]

Syeikh Musthafa Shabari, Syeikhul Islam Khilafah Ustmaniyyah, menyatakan:

الخلافة عن الرسول الله صلى الله عليه وسلم فى تنفيذ ما أتى به من شريعة الاسلام
“Khilafah itu adalah penganti Rasulullah SAW dalam melaksanakan syariat Islam yang datang kepada beliau saw”.

Di dalam Kitab al-Ahkaam al-Sulthaniyyah, Imam Al Mawardi Asy-Syafi’i menyatakan:

الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا به
“Imamah itu diposisikan untuk Khilafah Nubuwwah dalam menjaga agama dan pengaturan urusan dunia.” [Imam Al Mawardi,  Al-Ahkaam Al Sulthaniyyah, hal 5]

Pengarang Kitab Ma’atsiril Inafah fii Ma’alimil Khilafah menyatakan:

وهي الولاية العامة على كافة الامة, والقيام بأمورها و النهوض بأعبائها.
“Khilafah adalah kepemimpinan umum untuk seluruh umat, dan menegakkan urusan-urusannya dan melaksanakan tugas-tugasnya”.[Imam al-Qalqasyandiy, Ma`aatsir al-Inaafah fi Ma’aalim al-Khilaafah, juz 1/9; lihat juga Asy Syeikh Musthafa Shabari, Mauqif al-‘Aql wa al-‘Ilmi wa al-‘Alam, juz 4/262]

Setelah menelaah dalil-dalil syariat, fakta Daulah Islamiyyah yang didirikan Rasulullah saw, praktek kenegaraan Nabi saw dan para shahabat, serta penjelasan ulama-ulama mu’tabar, ‘Allamah al-Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani rahimahullah, di dalam Kitab al-Khilafah, menyimpulkan:

الخلافة هي رئاسة عامة للمسلمين جميعاً في الدنيا لإقامة أحكام الشرع الإسلامي، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم، وهي عينها الإمامة، فالإمامة والخلافة بمعنى واحد.
“Khilafah adalah kepemimpinan umum untuk seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam dan mengemban dakwah Islamiyyah ke seluruh penjuru alam.  Al-Khilafah substansinya sama dengan al-Imamah.  Imamah dan Khilafah memiliki makna yang sama”. [Imam Taqiyyuddin An Nabhaniy, Al-Khilafah,  hal. 1]

Substansi Ajaran Khilafah Islamiyyah

Khalifah, sebagai Imam al-A’dham, memimpin dan menyatukan seluruh kaum Muslim dari timur hingga barat.   Imam An Nawawiy di dalam Kitab Syarah Shahih Muslim, menyatakan:

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَةٍ بَعْد خَلِيفَة فَبَيْعَة الْأَوَّل صَحِيحَة يَجِب الْوَفَاء بِهَا ، وَبَيْعَة الثَّانِي بَاطِلَة يَحْرُم الْوَفَاء بِهَا ، وَيَحْرُم عَلَيْهِ طَلَبهَا ، وَسَوَاء عَقَدُوا لِلثَّانِي عَالِمِينَ بِعَقْدِ الْأَوَّل أَوْ جَاهِلِينَ ، وَسَوَاء كَانَا فِي بَلَدَيْنِ أَوْ بَلَد ، أَوْ أَحَدهمَا فِي بَلَد الْإِمَام الْمُنْفَصِل وَالْآخَر فِي غَيْره ، هَذَا هُوَ الصَّوَاب الَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابنَا وَجَمَاهِير الْعُلَمَاء،.. وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوز أَنْ يُعْقَد لِخَلِيفَتَيْنِ فِي عَصْر وَاحِد سَوَاء اِتَّسَعَتْ دَار الْإِسْلَام أَمْ لَا
“Jika seorang Khalifah dibai’at setelah dibai’atnya seorang Khalifah, maka bai’at pertama sah dan wajib dipenuhi.  Sedangkan bai’at kedua bathil, haram dipenuhi, dan haram bagi khalifah kedua menuntutnya;  dan sama saja apakah mereka mengangkat orang yang kedua itu dalam keadaan mengetahui pengangkatan orang yang pertama, maupun mereka tidak tahu.  Dan sama saja, apakah kedua Khalifah itu berada di dua negeri yang berbeda, atau satu negeri yang sama, atau salah satu dari keduanya berada di negeri yang sama tetapi terpisah dari Imam (orang yang pertama dibai’at), sedangkan yang lain berada di negeri lain.  Inilah pendapat benar yang dipegang teguh oleh ulama-ulama kami, dan mayoritas para ulama…..Para ulama sepakat bahwa tidak boleh menyerahkan aqad kekhilafahan kepada dua orang Khalifah pada masa yang bersamaan, sama saja, apakah Daar al-Islam luas maupun tidak.” [Imam An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, Juz 6, hal. 316] Penjelasan senada disampaikan pula Imam Badruddin al-‘Ainiy al-Hanafiy di dalam Kitab ‘Umdat al-Qaariy Syarh Shahih al-Bukhari, Juz 23, hal. 454.

Tunggalnya kepemimpinan akan mencegah terjadinya dualisme kepemimpinan yang acapkali menjadi sebab terjadinya perpecahan dan peperangan.

Di samping itu, Khilafah Islamiyyah adalah institusi politik yang berkewajiban menerapkan Islam secara menyeluruh di dalam Daulah Islamiyyah dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.  Imam Ibnu ‘Abidin, di dalam Kitab Radd al-Muhtaar, juz 4/205, menyatakan:

( قَوْلُهُ وَنَصْبُهُ ) أَيْ الْإِمَامِ الْمَفْهُومِ مِنْ الْمَقَامِ ( قَوْلُهُ أَهَمُّ الْوَاجِبَاتِ ) أَيْ مِنْ أَهَمِّهَا لِتَوَقُّفِ كَثِيرٍ مِنْ الْوَاجِبَاتِ الشَّرْعِيَّةِ عَلَيْهِ ، وَلِذَا قَالَ فِي الْعَقَائِدِ النَّسَفِيَّةِ : وَالْمُسْلِمُونَ لَا بُدَّ لَهُمْ مِنْ إمَامٍ ، يَقُومُ بِتَنْفِيذِ أَحْكَامِهِمْ ؛ وَإِقَامَةِ حُدُودِهِمْ ، وَسَدِّ ثُغُورِهِمْ ، وَتَجْهِيزِ جُيُوشِهِمْ ؛ وَأَخْذِ صَدَقَاتِهِمْ ، وَقَهْرِ الْمُتَغَلِّبَةِ وَالْمُتَلَصِّصَةِ وَقُطَّاعِ الطَّرِيقِ ، وَإِقَامَةِ الْجُمَعِ وَالْأَعْيَادِ ، وَقَبُولِ الشَّهَادَاتِ الْقَائِمَةِ عَلَى الْحُقُوقِ ؛ وَتَزْوِيجِ الصِّغَارِ وَالصَّغَائِرِ الَّذِينَ لَا أَوْلِيَاءَ لَهُمْ ، وَقِسْمَةِ الْغَنَائِمِ ا هـ ( قَوْلُهُ فَلِذَا قَدَّمُوهُ إلَخْ ) فَإِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُوُفِّيَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَدُفِنَ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ أَوْ لَيْلَةَ الْأَرْبِعَاءِ أَوْ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ ح عَنْ الْمَوَاهِبِ ، وَهَذِهِ السُّنَّةُ بَاقِيَةٌ إلَى الْآنَ لَمْ يُدْفَنْ خَلِيفَةٌ حَتَّى يُوَلَّى غَيْرُهُ 
“(Perkataannya: wa nashbuhu (mengangkatnya), maksudnya, (mengangkat) Imam Al-A’dzam (dan perkataannya: ahamm al-waajibaat (kewajiban yang paling penting)), yakni; mengangkat seorang Imam itu termasuk kewajiban yang paling penting, dikarenakan bergantungnya banyak kewajiban syariat kepadanya.  Oleh karena itu, Imam An Nasaafiy dalam al-‘Aqaaid al-Nasafiyyah berkata, “Kaum Muslim, sudah menjadi keharusan bagi mereka adanya seorang Imam yang tegak untuk melaksanakan hukum-hukum syariat, menegakkan hudud, memperkuat benteng-benteng, membentuk pasukan, mengambil zakat, mengalahkan para pemberontak dan mata-mata musuh, dan para pembegal, menegakkan sholat Jum’at dan Hari Raya, menerima kesaksian-kesaksian yang membuktikan atas hak-hak, menikahkan orang-orang lemah dan kecil yang tidak memiliki wali, dan membagikan ghanimah untuk mereka. (Perkataannya: Oleh karena itu para shahabat mendahulukannya (pengangkatan imamah)..dan seterusnya): sesungguhnya, Nabi saw wafat pada hari Senin dan dimakamkan pada hari Selasa, atau malam Rabu atau hari Rabu dari al-Mawaahib. Sunnah ini tetap berlangsung hingga sekarang, yaitu, seorang Khalifah tidak akan dimakamkan sebelum diangkat Khalifah yang lain”.[Ibnu ‘Abidin, Radd al-Muhtaar, juz 4/205]

Walhasil, substansi Khilafah ada tiga, yakni; (1) menerapkan Islam secara kaaffah, (2) menyatukan kaum Muslim seluruh dunia di bawah satu kendali kepemimpinan dan  mengikat mereka dalam persaudaraan sejati yang didasarkan pada ‘aqidah Islamiyyah, serta (3) menyebarkan dakwah Islamiyyah ke seluruh penjuru alam.

Jika ini substansinya, mengapa dakwah Khilafah dianggap sebagai sesuatu yang harus ditolak.  Bukankah seharusnya didukung, karena ia adalah ajaran Islam?

Dasar Kewajiban Menegakkan Khilafah

Dalil kewajiban menegakkan Khilafah adalah al-Quran, sunnah, ijma’ shahabat, dan qiyas.

Adapun al-Quran, ulama aswaja dari empat madzhab menyatakan bahwasanya surat Al-Baqarah (2) ayat 30 adalah dalil asal mengangkat seorang Khalifah.  Imam Qurthubiy menyatakan:

”... هَذِهِ اْلآيَةُ أَصْلٌ فِي نَصْبِ إِمَامٍ وَخَلِيْفَةٍ يُسْمَعُ لَهُ وَيُطَاعُ، لِتُجْتَمَعَ بِهِ الْكَلِمَةُ، وَتُنَفَّذَ بِهِ أَحْكَامُ الْخَلِيْفَةِ. وَلاَ خِلاَفَ فِي وُجُوْبِ ذَلِكَ بَيْنَ اْلاُمَّةِ وَلاَ بَيْنَ اْلاَئِمَّةِ إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنِ اْلاَصَمِ..“
"..Ayat ini (surat Al-Baqarah :30) adalah dalil asal wajibnya mengangkat seorang imam atau khalifah yang didengar dan ditaati, yang dengannya kalimat (persatuan umat) disatukan, dan dengannya dilaksanakan hukum-hukum khalifah.  Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban ini, baik di kalangan umat maupun kalangan para ulama, kecuali yang diriwayatkan dari Al-Asham…".[Imam Qurthubiy al-Malikiy, Al Jaami’ li Ahkaam al-Quran, juz 1/264-265]

Di samping itu, masih banyak ayat lain yang dalalat al-iltizam-nya menunjukkan kewajiban menegakkan Khilafah; seperti ayat-ayat yang mewajibkan kaum Muslim taat kepada ulil amriy, berhukum hanya kepada syariat Islam, jihad, ayat-ayat yang berbicara tentang hukum hudud, jinayat, serta hukum-hukum lain yang pelaksanaannya dikaitkan dengan Khalifah.

Al-Quran juga menjelaskan janji istikhlaf (janji kekuasaan seluruh dunia bagi kaum Muslim).   Allah swt berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.. "[TQS An Nuur (24):55]

Di dalam Tafsir Qurthubiy disebutkan, bahwasanya Ibnu 'Athiyah menyatakan:

واختار هذا القول ابن عطية في تفسيره حيث قال : والصحيح في الآية أنها في استخلاف الجمهور ، واستخلافهم هو أن يملكهم البلاد ويجعلهم أهلها ؛ كالذي جرى في الشام والعراق وخراسان والمغرب. قال ابن العربي : قلنا لهم هذا وعد عام في النبوة والخلافة وإقامة الدعوة وعموم الشريعة
”Pendapat ini dipilih oleh Ibnu ’Athiyah tatkala menafsirkan ayat tersebut, di mana ia berkata, ”Yang benar, di dalam ayat ini terdapat janji istikhlaf atas seluruh kaum Muslim.  Yang dimaksud dengan "istikhlaafuhum" adalah menjadikan mereka menguasai bumi dan menjadi penguasanya; seperti yang terjadi di Syam, Iraq, Khurasan, dan Maghrib".  Ibnu al-'Arabiy berkata, "Ayat ini merupakan janji umum dalam masalah nubuwwah, Khilafah, tegaknya dakwah, dan berlakunya syariah secara umum."[ Imam Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, juz 12, hal. 299-202]

Adapun sunnah, banyak riwayat menjelaskan kewajiban mengangkat seorang Khalifah. Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الْآخَرِ
"Siapa saja yang telah membai'at seorang imam (khalifah), lalu ia memberikan uluran tangan dan buah hatinya, hendaknya ia menta'atinya jika ia mampu.  Apabila ada orang lain hendak merebutnya maka penggallah leher itu".[HR. Imam Muslim]

Kewajiban bai’at menunjukkan kewajiban mengangkat seorang Khalifah.  Sebab, bai’at tidak mungkin ada di pundak kaum Muslim, tanpa keberadaan seorang Khalifah. 

Selain itu, di dalam sunnah juga diriwayatkan praktek-praktek kenegaraan Rasulullah saw, dan Khulafaur Rasyidiin; dan juga bisyarah (kabar gembira) berdirinya Khilafah Islamiyyah.  Semua menunjukkan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam yang wajib ditegakkan kaum Muslim.

Adapun ijma’ shahabat, para shahabat sepakat atas kewajiban mengangkat seorang Khalifah setelah berakhirnya jaman kenabian.   Mereka menjadikan kewajiban ini sebagai kewajiban yang paling penting. Allamah Ibnu Hajar al-Haitamiy Asy Syafi’iy, di dalam kitab Ash Shawaa'iqu al Muhriqah menyatakan:

اِعْلَمْ أَيْضًا أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ تَعَالىَ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ نَصْبَ اْلإِمَامِ بَعْدَ اِنْقِرَاضِ زَمَنِ النُّبُوَّةِ وَاجِبٌ بَلْ جَعَلُوْهُ أَهَمَّ الْوَاجِبَاتِ حَيْثُ اشْتَغَلُوْا بِهِ عَنْ دَفْنِ رَسُوْلِ اللهِ وَاخْتِلاَفُهُمْ فِي التَّعْيِيْنِ لاَ يَقْدِحُ فِي اْلإِجْمَاعِ الْمَذْكُوْرِ
"Ketahuilah juga; sesungguhnya para shahabat ra seluruhnya telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib; bahkan mereka menjadikan kewajiban tersebut (mengangkat seorang imam/khalifah) sebagai kewajiban yang paling penting.  Sebab, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban tersebut daripada kewajiban menyelenggarakan jenazah Rasulullah saw.  Perbedaan pendapat di antara mereka mengenai ta'yiin (siapa yang paling layak menjabat khalifah) tidak merusak ijma' yang telah disebut.." [‘Allamah Ibnu Hajar al-Haitamiy Asy Syafi’iy, Ash Shawaa'iqul Muhriqah, juz 1/25]

Pandangan Ulama Terhadap Kewajiban Menegakkan Khilafah

Ulama aswaja tidak pernah berselisih pendapat atas wajibnya menegakkan Khilafah Islamiyyah.  Imam Alauddin al-Kasaaniy, seorang ulama madzhab Hanafiy menyatakan:

وَلِأَنَّ نَصْبَ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ فَرْضٌ ، بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَقِّ ، وَلَا عِبْرَةَ - بِخِلَافِ بَعْضِ الْقَدَرِيَّةِ - ؛ لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ ، وَلِمِسَاسِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ ؛ لِتَقَيُّدِ الْأَحْكَامِ ، وَإِنْصَافِ الْمَظْلُومِ مِنْ الظَّالِمِ ، وَقَطْعِ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي هِيَ مَادَّةُ الْفَسَادِ ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَصَالِحِ الَّتِي لَا تَقُومُ إلَّا بِإِمَامٍ ، ...
"Sebab, mengangkat seorang Imamul A'dzam (imam agung) adalah fardlu, tidak ada perbedaan pendapat di antara ahlul haq.  Tidak bernilai sama sekali –penyelisihan sebagian kelompok Qadariyyah--, dikarenakan adanya ijma' shahabat ra atas kewajiban itu. Dan juga dikarenakan adanya kebutuhan terhadap khalifah; agar bisa terikat dengan hukum-hukum (syariat); membela orang yang didzalimi dari orang yang dzalim; memutus perselisihan yang menjadi sebab kerusakan, dan kemashlahatan-kemashlahatan lain yang tidak mungkin bisa tegak tanpa adanya seorang imam…"[Imam al-Kasaaniy, Badaai` al-Shanaai` fiy Tartib al-Syaraai’, juz 14/406]

Fardlu, menurut istilah madzhab Hanafiy adalah sebutan untuk “kadar ketetapan” yang secara syar’iy ditetapkan berdasarkan dalil qath’iy.  Mengingkari fardlu, murtad dari agama Islam.  Imam Sarakhsiy dalam Kitab Ushul al-Sarakhsiy menyatakan:

فالفرض اسم لمقدر شرعا لا يحتمل الزيادة والنقصان وهو مقطوع به لكونه ثابتا بدليل موجب للعلم قطعا من الكتاب أو السنة المتواترة أو الإجماع…..وحكم هذا القسم شرعا أنه موجب للعلم اعتقادا باعتبار أنه ثابت بدليل مقطوع به ولهذا يكفر جاحده وموجب للعمل بالبدن للزوم الأداء بدليله فيكون المؤدي مطيعا لربه والتارك للأداء عاصيا
“Fardlu adalah sebutan untuk suatu kadar yang secara syar’iy tidak memungkinkan adanya penambahan dan pengurangan.  Fardlu adalah kadar (ketetapan) yang dipastikan, karena keberadaannya ditetapkan oleh dalil yang mewajibkan ilmu (keyakinan) secara qath’iy dari al-Quran, Sunnah Mutawatir, dan Ijma’….Hukum untuk jenis ini (fardlu); menurut sya’iy wajib diyakini secara keyakinan (i’tiqaad) dengan anggapan bahwa perkara fardlu ditetapkan berdasarkan dalil yang dipastikan kebenarannya (qath’iy).  Oleh karena itu, kafirlah orang yang mengingkari fardlu; dan fardlu mewajibkan untuk diamalkan dengan anggota badan, karena di dalam dalilnya ada kewajiban untuk melaksanakannya.  Maka, orang yang menunaikan adalah orang yang taat kepada Tuhannya, sedangkan orang yang meninggalkan adalah maksiyat”. [Imam Sarakhsiy, Ushul al-Sarakhsiy, Juz 1/110. Maktabah Syamilah]

Khilafah Ajaran Islam

Dari sisi hukum, menegakkan Khilafah Islamiyyah adalah wajib.  Adapun dari sisi ‘aqidah, Khilafah termasuk janji Allah swt kepada kaum Mukmin. Bahkan, hadits-hadits yang bertutur tentang kembalinya Kekhilafahan Islam mencapai derajat mutawatir bil makna, semacam hadits-hadits yang bertutur tentang Imam Mahdiy sebagai Khalifah di akhir jaman.  

Imam Al-Kattaniy menyatakan:

وفي شرح الرسالة للشيخ جسوس ما نصه ورد خبر المهدي في أحاديث ذكر السخاوي أنها وصلت إلى حد التواتر, وفي شرح المواهب نقلا عن أبي الحسين الإبري في مناقب الشافعي قال تواترت الأخبار أن المهدي من هذه الأمة وأن عيسى يصلي حلفه ذكر ذلك ردا لحديث ابن ماجة عن أنس ولا مهدي إلا عيسى
“Di dalam Syarah al-Risalah, karta Syaikh Jasus, disebutkan bahwasanya berita tentang Al Mahdiy terdapat di dalam hadits-hadits yang dinyatakan oleh Al Hafidz al-Sakhawiy telah mencapai derajat mutawatir.  Di dalam Syarah al-Mawahib, dinukilkan dari al-Husain al-Ibriy di dalam Kitab Manaqib al-Syafi’iy, bahwasanya ia berkata, “Informasi-informasi yang menyatakan bahwa Al Mahdiy adalah bagian dari umat ini, dan ‘Isa as akan sholat dibelakangnya adalah mutawatir.  Ini dituturkan sebagai bantahan atas haditsnya Ibnu Majah dari Anas bin Malik ra yang menyatakan ” tidak ada Al-Mahdiy kecuali Nabi Isa as”. [Imam Al-Kattaniy, Nudhum al-Mutanaatsir min al-Hadits al-Mutawatir, Juz 1, hal.226]

Khilafah Ancaman Bagi Siapa?

Jika Khilafah ajaran Islam,  bagaimana bisa dinyatakan Khilafah merupakan ancaman bagi penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim?   Jika Khilafah merupakan kewajiban dan janji Allah swt, bagaimana bisa dinyatakan dakwah Khilafah harus ditolak dan dihadang?  Bukankah justru harus didukung dengan penuh keimanan dan ketaatan?

Lalu, siapakah pihak yang sejatinya terancam dengan dakwah Khilafah?  Jawabnya; pertama, negara kafir imperialis dan kroni-kroninya yang berusaha mati-matian mempertahankan system demokrasi-sekuler dan penjajahan atas negeri-negeri kaum Muslim.  Sebab, mereka memahami bahwa Khilafah akan mengakhiri system demokrasi-sekuler dan penjajahan atas dunia Islam.  Khilafah juga akan mengembalikan hak-hak dan asset-asset milik rakyat yang saat ini dikuasai korporasi asing.  Kedua, pihak yang tidak menginginkan Muslim seluruh dunia bersatu. Mereka adalah orang kafir dan munafik yang menginginkan perpecahan di tengah-tengah kaum Muslim. Ketiga, pihak yang mendapatkan manfaat dari system demokrasi-sekuler, dan tidak rela kemashlahatan itu lenyap ketika Khilafah berdiri.

Dakwah syariah dan Khilafah tentu saja bukanlah ancaman bagi kaum Mukmin.  Sebab, keduanya adalah ajaran Islam.  Dakwah syariah dan Khilafah juga bukan ancaman bagi non Muslim.  Sebab, Khilafah melindungi hak-hak mereka, memperlakukan mereka secara adil, dan menebarkan rahmat bagi seluruh penjuru alam.

Setelah penjelasan ini, masihkah ada pihak yang menolak dan menghadang dakwah syariah dan Khilafah? (Gus Syams).

Terkait :

0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Arsitektur dan Konstruksi

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online


Didukung oleh: Suwur - Tenda SUWUR - OmaSae - Blogger - JayaSteel - Air Minum Isi Ulang - TAS Omasae - Furniture - Rumah Suwur - Bengkel Las -