[iklan]

DEFINISI Khilafah Ajaran Islam

KHILAFAH AJARAN ISLAM

Definisi Khilafah

Khilafah berasal dari โ€œkhalafaโ€, yang bermakna menggantikan yang lain.   Adapun menurut istilah para ulama, Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh umat dalam mengatur urusan agama dan urusan dunia.    Meskipun dengan redaksi yang berbeda-beda, ulama aswaja  sepakat  bahwa Khilafah adalah system pemerintahan yang tegak di atas โ€˜aqidah Islamiyyah, yang menempatkan seorang Khalifah sebagai pemimpin agung seluruh umat Islam, menerapkan Islam secara menyeluruh, dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.  Mereka juga sepakat bahwa al-Khilafah dan al-Imamah memiliki pengertian sama (sinonim).

Di dalam Kitab Ma`aatsir al-Inaafah fiy Maโ€™aalim al-Khilaafah, Imam Qalqasyandiy menyatakan:

ุงู…ุง ุงู„ุฎู„ุงูุฉ ูู‡ูŠ ููŠ ุงู„ุงุตู„ ู…ุตุฏุฑ ุฎู„ู....ุซู… ุฃุทู„ู‚ุช ูู‰ ุงู„ุนุฑู ุงู„ุนุงู… ุนู„ู‰ ุงู„ุฒุนุงู…ุฉ ุงู„ุนุธู…ู‰, ูˆู‡ูŠ ุงู„ูˆู„ุงูŠุฉ ุงู„ุนุงู…ุฉ ุนู„ู‰ ูƒุงูุฉ ุงู„ุงู…ุฉ, ูˆุงู„ู‚ูŠุงู… ุจุฃู…ูˆุฑู‡ุง ูˆ ุงู„ู†ู‡ูˆุถ ุจุฃุนุจุงุฆู‡ุง.
โ€œAdapun โ€œal-khilafahโ€, asalnya dari mashdar โ€œkhalafaโ€ (mengganti)โ€ฆ.. Lalu, kata khilafah ini disebut dalam konteks โ€˜urf umum dengan makna โ€œkepemimpinan agung; yakni, kekuasaan umum atas seluruh umat, dan menegakkan urusannya dan melaksanakan tugas-tugasnya. [Imam al-Qalqasyandiy, Ma`aatsir al-Inaafah fi Maโ€™aalim al-Khilaafah, juz 1/9]

Imam Nawawiy, di dalam Kitab al-Majmuuโ€™ menyatakan:

ูˆู…ู† ุซู… ูŠุฃุชูŠ ุฎุทุฃ ุจุนุถ ุงู„ู…ุชูƒู„ู…ูŠู† ููŠ ู‚ูˆู„ู‡ู… ู„ูˆ ุชูƒุงู ุงู„ู†ุงุณ ุนู† ุงู„ุธู„ู… ู„ู… ูŠุฌุจ ู†ุตุจ ุงู„ุงู…ุงู… ู„ุงู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู… ุงุฌุชู…ุนูˆุง ุนู„ู‰ ู†ุตุจ ุงู„ุงู…ุงู…ุŒ ูˆุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจุงู„ุงู…ุงู… ุงู„ุฑุฆูŠุณ ุงู„ุง ุนู„ู‰ ู„ู„ุฏูˆู„ุฉุŒ ูˆุงู„ุงู…ุงู…ุฉ ูˆุงู„ุฎู„ุงูุฉ ูˆุฅู…ุงุฑุฉ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ู…ุชุฑุงุฏูุฉุŒ ูˆุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจู‡ุง ุงู„ุฑูŠุงุณุฉ ุงู„ุนุงู…ุฉ ููŠ ุดุฆูˆู† ุงู„ุฏูŠู† ูˆุงู„ุฏู†ูŠุง. ูˆูŠุฑู‰ ุงุจู† ุญุฒู… ุฃู† ุงู„ุงู…ุงู… ุฅุฐุง ุฃุทู„ู‚ ุงู†ุตุฑู ุฅู„ู‰ ุงู„ุฎู„ูŠูุฉุŒ ุฃู…ุง ุฅุฐุง ู‚ูŠุฏ ุงู†ุตุฑู ุฅู„ู‰ ู…ุง ู‚ูŠุฏ ุจู‡ ู…ู† ุฅู…ุงู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุฅู…ุงู… ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆุฅู…ุงู… ุงู„ู‚ูˆู….
โ€œLalu, ada kesalahan yang menimpa sebagian ahli kalam dalam perkataan mereka, seandainya manusia mampu terhindar dari kedzaliman, maka mereka tidak wajib mengangkat seorang Imam.  Pendapat ini salah, karena para shahabat ra telah bersepakat atas wajibnya mengangkat seorang Imam.  Yang dimaksud dengan al-Imam adalah pemimpin tertinggi bagi negara.  Al-Imamah, al-Khilafah, Imaarat al-Mukminiin adalah mutaraadif (sinonim).  Sedangkan yang dimaksud dengan al-Imamah adalah kepemimpinan umum (al-riyaasah al-โ€˜aamah) dalam mengatur urusan agama dan dunia. Ibnu Hazm berpendapat bahwa kata โ€œal-Imamโ€, jika disebut secara mutlak, maka pengertiannya adalah al-khalifah. Adapun jika disebut dengan taqyid (pembatasan) maka maknanya adalah sesuai dengan batasan tersebut, misalnya, imam sholat, imam al-hadits, dan imam suatu kaumโ€. [Imam An Nawawiy, Al-Majmuuโ€™ Syarh al-Muhadzdzab, juz 19/191]

Ulama aswaja hanya berbeda pendapat dalam menentukan munasib (kedudukan) Khilafah; apakah khilafah itu wakil Allah, wakil Rasulullah saw, ataukah wakil umat Islam untuk menerapkan Islam dan mengatur urusan manusia.[Lihat Imam Qalqasyandiy, Ma`aatsir al-Inaafah fi Maโ€™aalim al-Khilaafah, juz 1/14-17] 

Sedangkan dalam konteks Khilafah sebagai sebuah sistem pemerintahan yang menjadikan Khalifah sebagai Imamul Aโ€™dham yang menerapkan Islam secara kaaffah, dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia, maka tidak ada ikhtilaf di dalamnya.   Kesimpulan semacam ini bisa disarikan dari definisi Khilafah yang dijelaskan ulama aswaja berikut ini:

Di dalam Kitab al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun menyatakan:

ูˆุฃู†ู‡ ู†ูŠุงุจุฉ ุนู† ุตุงุญุจ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ููŠ ุญูุธ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุณูŠุงุณุฉ ุงู„ุฏู†ูŠุง ุจู‡ ุชุณู…ู‰ ุฎู„ุงูุฉ ูˆุฅู…ุงู…ุฉ ูˆุงู„ู‚ุงุฆู… ุจู‡ ุฎู„ูŠูุฉ ูˆุฅู…ุงู…ุง .ูุฃู…ุง ุชุณู…ูŠุชู‡ ุฅู…ุงู…ุงู‹ ูุชุดุจูŠู‡ุงู‹ ุจุฅู…ุงู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ููŠ ุงุชุจุงุนู‡ ูˆุงู„ุงู‚ุชุฏุงุก ุจู‡ุŒ ูˆู„ู‡ุฐุง ูŠู‚ุงู„: ุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ุงู„ูƒุจุฑู‰. ูˆุฃู…ุง ุชุณู…ูŠุชู‡ ุฎู„ูŠูุฉ ูู„ูƒูˆู†ู‡ ูŠุฎู„ู ุงู„ู†ุจูŠ ููŠ ุฃู…ุชู‡ุŒ ููŠู‚ุงู„: ุฎู„ูŠูุฉ ุจุฅุทู„ุงู‚ุŒ ูˆุฎู„ูŠูุฉ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡.
โ€œWakil Pemilik Syariah dalam menjaga agama serta mengatur urusan dunia disebut dengan Khilafah dan Imamah. Sedangkan yang menempati kedudukan itu adalah Khalifah atau Imamโ€.  Adapun penamaannya dengan Imam diserupakan dengan dengan imam sholat dalam hal wajibnya untuk diikuti dan dipanuti.  Oleh karena itu dinyatakan: al-Imamah al-Kubra (Kepemimpinan Agung).  Adapun penyebutannya dengan Khalifah, disebabkan karena ia menggantikan Nabi saw dalam (mengatur) urusan umatnya.  Dinyatakan: โ€œKhaliifah secara mutlak dan Khalifah Rasulullah saw.โ€  [ Imam Ibn Khaldun, Al Muqaddimah, hal 190]

Imam Al Ramli menyatakan:

ุงู„ุฎู„ูŠูุฉ ู‡ูˆ ุงู„ุงู…ุงู… ุงู„ุงุนุธุงู…, ุงู„ู‚ุงุฆู… ุจุฎู„ุงูุฉ ุงู„ู†ุจูˆุฉ, ูู‰ ุญุฑุงุณุฉ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุณูŠุงุณุฉ ุงู„ุฏู†ูŠุง
โ€œKhalifah itu adalah Imam agung yang menduduki jabatan khilafah nubuwwah dalam melindungi agama serta pengaturan urusan dunia.โ€[Imam Al Ramli Muhammad bin Ahmad bin Hamzah,  Nihayat al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaj fil Fiqhi โ€˜ala Madzhab Al Imam Al Syafiโ€™i, juz 7/289]

Syeikh Musthafa Shabari, Syeikhul Islam Khilafah Ustmaniyyah, menyatakan:

ุงู„ุฎู„ุงูุฉ ุนู† ุงู„ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‰ ุชู†ููŠุฐ ู…ุง ุฃุชู‰ ุจู‡ ู…ู† ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุงุณู„ุงู…
โ€œKhilafah itu adalah penganti Rasulullah SAW dalam melaksanakan syariat Islam yang datang kepada beliau sawโ€.

Di dalam Kitab al-Ahkaam al-Sulthaniyyah, Imam Al Mawardi Asy-Syafiโ€™i menyatakan:

ุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ู…ูˆุถูˆุนุฉ ู„ุฎู„ุงูุฉ ุงู„ู†ุจูˆุฉ ููŠ ุญุฑุงุณุฉ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุณูŠุงุณุฉ ุงู„ุฏู†ูŠุง ุจู‡
โ€œImamah itu diposisikan untuk Khilafah Nubuwwah dalam menjaga agama dan pengaturan urusan dunia.โ€ [Imam Al Mawardi,  Al-Ahkaam Al Sulthaniyyah, hal 5]

Pengarang Kitab Maโ€™atsiril Inafah fii Maโ€™alimil Khilafah menyatakan:

ูˆู‡ูŠ ุงู„ูˆู„ุงูŠุฉ ุงู„ุนุงู…ุฉ ุนู„ู‰ ูƒุงูุฉ ุงู„ุงู…ุฉ, ูˆุงู„ู‚ูŠุงู… ุจุฃู…ูˆุฑู‡ุง ูˆ ุงู„ู†ู‡ูˆุถ ุจุฃุนุจุงุฆู‡ุง.
โ€œKhilafah adalah kepemimpinan umum untuk seluruh umat, dan menegakkan urusan-urusannya dan melaksanakan tugas-tugasnyaโ€.[Imam al-Qalqasyandiy, Ma`aatsir al-Inaafah fi Maโ€™aalim al-Khilaafah, juz 1/9; lihat juga Asy Syeikh Musthafa Shabari, Mauqif al-โ€˜Aql wa al-โ€˜Ilmi wa al-โ€˜Alam, juz 4/262]

Setelah menelaah dalil-dalil syariat, fakta Daulah Islamiyyah yang didirikan Rasulullah saw, praktek kenegaraan Nabi saw dan para shahabat, serta penjelasan ulama-ulama muโ€™tabar, โ€˜Allamah al-Syaikh Taqiyyuddin An Nabhani rahimahullah, di dalam Kitab al-Khilafah, menyimpulkan:

ุงู„ุฎู„ุงูุฉ ู‡ูŠ ุฑุฆุงุณุฉ ุนุงู…ุฉ ู„ู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุฌู…ูŠุนุงู‹ ููŠ ุงู„ุฏู†ูŠุง ู„ุฅู‚ุงู…ุฉ ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุดุฑุน ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุŒ ูˆุญู…ู„ ุงู„ุฏุนูˆุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุนุงู„ู…ุŒ ูˆู‡ูŠ ุนูŠู†ู‡ุง ุงู„ุฅู…ุงู…ุฉุŒ ูุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ูˆุงู„ุฎู„ุงูุฉ ุจู…ุนู†ู‰ ูˆุงุญุฏ.
โ€œKhilafah adalah kepemimpinan umum untuk seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam dan mengemban dakwah Islamiyyah ke seluruh penjuru alam.  Al-Khilafah substansinya sama dengan al-Imamah.  Imamah dan Khilafah memiliki makna yang samaโ€. [Imam Taqiyyuddin An Nabhaniy, Al-Khilafah,  hal. 1]

Substansi Ajaran Khilafah Islamiyyah

Khalifah, sebagai Imam al-Aโ€™dham, memimpin dan menyatukan seluruh kaum Muslim dari timur hingga barat.   Imam An Nawawiy di dalam Kitab Syarah Shahih Muslim, menyatakan:

ุฅูุฐูŽุง ุจููˆูŠูุนูŽ ู„ูุฎูŽู„ููŠููŽุฉู ุจูŽุนู’ุฏ ุฎูŽู„ููŠููŽุฉ ููŽุจูŽูŠู’ุนูŽุฉ ุงู„ู’ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ ุตูŽุญููŠุญูŽุฉ ูŠูŽุฌูุจ ุงู„ู’ูˆูŽููŽุงุก ุจูู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽุจูŽูŠู’ุนูŽุฉ ุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠ ุจูŽุงุทูู„ูŽุฉ ูŠูŽุญู’ุฑูู… ุงู„ู’ูˆูŽููŽุงุก ุจูู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽูŠูŽุญู’ุฑูู… ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุทูŽู„ูŽุจู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽุณูŽูˆูŽุงุก ุนูŽู‚ูŽุฏููˆุง ู„ูู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠ ุนูŽุงู„ูู…ููŠู†ูŽ ุจูุนูŽู‚ู’ุฏู ุงู„ู’ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ ุฃูŽูˆู’ ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู†ูŽ ุŒ ูˆูŽุณูŽูˆูŽุงุก ูƒูŽุงู†ูŽุง ูููŠ ุจูŽู„ูŽุฏูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽูˆู’ ุจูŽู„ูŽุฏ ุŒ ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุญูŽุฏู‡ู…ูŽุง ูููŠ ุจูŽู„ูŽุฏ ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู… ุงู„ู’ู…ูู†ู’ููŽุตูู„ ูˆูŽุงู„ู’ุขุฎูŽุฑ ูููŠ ุบูŽูŠู’ุฑู‡ ุŒ ู‡ูŽุฐูŽุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ุตู‘ูŽูˆูŽุงุจ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู†ูŽุง ูˆูŽุฌูŽู…ูŽุงู‡ููŠุฑ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกุŒ.. ูˆูŽุงุชู‘ูŽููŽู‚ูŽ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุก ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุนู’ู‚ูŽุฏ ู„ูุฎูŽู„ููŠููŽุชูŽูŠู’ู†ู ูููŠ ุนูŽุตู’ุฑ ูˆูŽุงุญูุฏ ุณูŽูˆูŽุงุก ุงูุชู‘ูŽุณูŽุนูŽุชู’ ุฏูŽุงุฑ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู… ุฃูŽู…ู’ ู„ูŽุง
โ€œJika seorang Khalifah dibaiโ€™at setelah dibaiโ€™atnya seorang Khalifah, maka baiโ€™at pertama sah dan wajib dipenuhi.  Sedangkan baiโ€™at kedua bathil, haram dipenuhi, dan haram bagi khalifah kedua menuntutnya;  dan sama saja apakah mereka mengangkat orang yang kedua itu dalam keadaan mengetahui pengangkatan orang yang pertama, maupun mereka tidak tahu.  Dan sama saja, apakah kedua Khalifah itu berada di dua negeri yang berbeda, atau satu negeri yang sama, atau salah satu dari keduanya berada di negeri yang sama tetapi terpisah dari Imam (orang yang pertama dibaiโ€™at), sedangkan yang lain berada di negeri lain.  Inilah pendapat benar yang dipegang teguh oleh ulama-ulama kami, dan mayoritas para ulamaโ€ฆ..Para ulama sepakat bahwa tidak boleh menyerahkan aqad kekhilafahan kepada dua orang Khalifah pada masa yang bersamaan, sama saja, apakah Daar al-Islam luas maupun tidak.โ€ [Imam An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, Juz 6, hal. 316] Penjelasan senada disampaikan pula Imam Badruddin al-โ€˜Ainiy al-Hanafiy di dalam Kitab โ€˜Umdat al-Qaariy Syarh Shahih al-Bukhari, Juz 23, hal. 454.

Tunggalnya kepemimpinan akan mencegah terjadinya dualisme kepemimpinan yang acapkali menjadi sebab terjadinya perpecahan dan peperangan.

Di samping itu, Khilafah Islamiyyah adalah institusi politik yang berkewajiban menerapkan Islam secara menyeluruh di dalam Daulah Islamiyyah dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.  Imam Ibnu โ€˜Abidin, di dalam Kitab Radd al-Muhtaar, juz 4/205, menyatakan:

( ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ูˆูŽู†ูŽุตู’ุจูู‡ู ) ุฃูŽูŠู’ ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ุงู„ู’ู…ูŽูู’ู‡ููˆู…ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽู‚ูŽุงู…ู ( ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ุฃูŽู‡ูŽู…ู‘ู ุงู„ู’ูˆูŽุงุฌูุจูŽุงุชู ) ุฃูŽูŠู’ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ูŽู…ู‘ูู‡ูŽุง ู„ูุชูŽูˆูŽู‚ู‘ููู ูƒูŽุซููŠุฑู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ูˆูŽุงุฌูุจูŽุงุชู ุงู„ุดู‘ูŽุฑู’ุนููŠู‘ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูุฐูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽู‚ูŽุงุฆูุฏู ุงู„ู†ู‘ูŽุณูŽูููŠู‘ูŽุฉู : ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ ู„ูŽุง ุจูุฏู‘ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฅู…ูŽุงู…ู ุŒ ูŠูŽู‚ููˆู…ู ุจูุชูŽู†ู’ูููŠุฐู ุฃูŽุญู’ูƒูŽุงู…ูู‡ูู…ู’ ุ› ูˆูŽุฅูู‚ูŽุงู…ูŽุฉู ุญูุฏููˆุฏูู‡ูู…ู’ ุŒ ูˆูŽุณูŽุฏู‘ู ุซูุบููˆุฑูู‡ูู…ู’ ุŒ ูˆูŽุชูŽุฌู’ู‡ููŠุฒู ุฌููŠููˆุดูู‡ูู…ู’ ุ› ูˆูŽุฃูŽุฎู’ุฐู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุงุชูู‡ูู…ู’ ุŒ ูˆูŽู‚ูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู’ู…ูุชูŽุบูŽู„ู‘ูุจูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุชูŽู„ูŽุตู‘ูุตูŽุฉู ูˆูŽู‚ูุทู‘ูŽุงุนู ุงู„ุทู‘ูŽุฑููŠู‚ู ุŒ ูˆูŽุฅูู‚ูŽุงู…ูŽุฉู ุงู„ู’ุฌูู…ูŽุนู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุนู’ูŠูŽุงุฏู ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุจููˆู„ู ุงู„ุดู‘ูŽู‡ูŽุงุฏูŽุงุชู ุงู„ู’ู‚ูŽุงุฆูู…ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูู‚ููˆู‚ู ุ› ูˆูŽุชูŽุฒู’ูˆููŠุฌู ุงู„ุตู‘ูุบูŽุงุฑู ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽุบูŽุงุฆูุฑู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽุง ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุกูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุŒ ูˆูŽู‚ูุณู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู’ุบูŽู†ูŽุงุฆูู…ู ุง ู‡ู€ ( ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ููŽู„ูุฐูŽุง ู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ููˆู‡ู ุฅู„ูŽุฎู’ ) ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุชููˆููู‘ููŠูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ูุงุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุฏูููู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ุซู‘ูู„ูŽุงุซูŽุงุกู ุฃูŽูˆู’ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุจูุนูŽุงุกู ุฃูŽูˆู’ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุจูุนูŽุงุกู ุญ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽูˆูŽุงู‡ูุจู ุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู ุจูŽุงู‚ููŠูŽุฉูŒ ุฅู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุขู†ูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฏู’ููŽู†ู’ ุฎูŽู„ููŠููŽุฉูŒ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠููˆูŽู„ู‘ูŽู‰ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู 
โ€œ(Perkataannya: wa nashbuhu (mengangkatnya), maksudnya, (mengangkat) Imam Al-Aโ€™dzam (dan perkataannya: ahamm al-waajibaat (kewajiban yang paling penting)), yakni; mengangkat seorang Imam itu termasuk kewajiban yang paling penting, dikarenakan bergantungnya banyak kewajiban syariat kepadanya.  Oleh karena itu, Imam An Nasaafiy dalam al-โ€˜Aqaaid al-Nasafiyyah berkata, โ€œKaum Muslim, sudah menjadi keharusan bagi mereka adanya seorang Imam yang tegak untuk melaksanakan hukum-hukum syariat, menegakkan hudud, memperkuat benteng-benteng, membentuk pasukan, mengambil zakat, mengalahkan para pemberontak dan mata-mata musuh, dan para pembegal, menegakkan sholat Jumโ€™at dan Hari Raya, menerima kesaksian-kesaksian yang membuktikan atas hak-hak, menikahkan orang-orang lemah dan kecil yang tidak memiliki wali, dan membagikan ghanimah untuk mereka. (Perkataannya: Oleh karena itu para shahabat mendahulukannya (pengangkatan imamah)..dan seterusnya): sesungguhnya, Nabi saw wafat pada hari Senin dan dimakamkan pada hari Selasa, atau malam Rabu atau hari Rabu dari al-Mawaahib. Sunnah ini tetap berlangsung hingga sekarang, yaitu, seorang Khalifah tidak akan dimakamkan sebelum diangkat Khalifah yang lainโ€.[Ibnu โ€˜Abidin, Radd al-Muhtaar, juz 4/205]

Walhasil, substansi Khilafah ada tiga, yakni; (1) menerapkan Islam secara kaaffah, (2) menyatukan kaum Muslim seluruh dunia di bawah satu kendali kepemimpinan dan  mengikat mereka dalam persaudaraan sejati yang didasarkan pada โ€˜aqidah Islamiyyah, serta (3) menyebarkan dakwah Islamiyyah ke seluruh penjuru alam.

Jika ini substansinya, mengapa dakwah Khilafah dianggap sebagai sesuatu yang harus ditolak.  Bukankah seharusnya didukung, karena ia adalah ajaran Islam?

Dasar Kewajiban Menegakkan Khilafah

Dalil kewajiban menegakkan Khilafah adalah al-Quran, sunnah, ijmaโ€™ shahabat, dan qiyas.

Adapun al-Quran, ulama aswaja dari empat madzhab menyatakan bahwasanya surat Al-Baqarah (2) ayat 30 adalah dalil asal mengangkat seorang Khalifah.  Imam Qurthubiy menyatakan:

โ€... ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู’ู„ุขูŠูŽุฉู ุฃูŽุตู’ู„ูŒ ูููŠ ู†ูŽุตู’ุจู ุฅูู…ูŽุงู…ู ูˆูŽุฎูŽู„ููŠู’ููŽุฉู ูŠูุณู’ู…ูŽุนู ู„ูŽู‡ู ูˆูŽูŠูุทูŽุงุนูุŒ ู„ูุชูุฌู’ุชูŽู…ูŽุนูŽ ุจูู‡ู ุงู„ู’ูƒูŽู„ูู…ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุชูู†ูŽูู‘ูŽุฐูŽ ุจูู‡ู ุฃูŽุญู’ูƒูŽุงู…ู ุงู„ู’ุฎูŽู„ููŠู’ููŽุฉู. ูˆูŽู„ุงูŽ ุฎูู„ุงูŽููŽ ูููŠ ูˆูุฌููˆู’ุจู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู’ู„ุงูู…ู‘ูŽุฉู ูˆูŽู„ุงูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู’ู„ุงูŽุฆูู…ู‘ูŽุฉู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู…ูŽุง ุฑููˆููŠูŽ ุนูŽู†ู ุงู’ู„ุงูŽุตูŽู…ู..โ€œ
"..Ayat ini (surat Al-Baqarah :30) adalah dalil asal wajibnya mengangkat seorang imam atau khalifah yang didengar dan ditaati, yang dengannya kalimat (persatuan umat) disatukan, dan dengannya dilaksanakan hukum-hukum khalifah.  Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban ini, baik di kalangan umat maupun kalangan para ulama, kecuali yang diriwayatkan dari Al-Ashamโ€ฆ".[Imam Qurthubiy al-Malikiy, Al Jaamiโ€™ li Ahkaam al-Quran, juz 1/264-265]

Di samping itu, masih banyak ayat lain yang dalalat al-iltizam-nya menunjukkan kewajiban menegakkan Khilafah; seperti ayat-ayat yang mewajibkan kaum Muslim taat kepada ulil amriy, berhukum hanya kepada syariat Islam, jihad, ayat-ayat yang berbicara tentang hukum hudud, jinayat, serta hukum-hukum lain yang pelaksanaannya dikaitkan dengan Khalifah.

Al-Quran juga menjelaskan janji istikhlaf (janji kekuasaan seluruh dunia bagi kaum Muslim).   Allah swt berfirman:

ูˆูŽุนูŽุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุกูŽุงู…ูŽู†ููˆุง ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุนูŽู…ูู„ููˆุง ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญูŽุงุชู ู„ูŽูŠูŽุณู’ุชูŽุฎู’ู„ูููŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูƒูŽู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุฎู’ู„ูŽููŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูู‡ูู…ู’
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.. "[TQS An Nuur (24):55]

Di dalam Tafsir Qurthubiy disebutkan, bahwasanya Ibnu 'Athiyah menyatakan:

ูˆุงุฎุชุงุฑ ู‡ุฐุง ุงู„ู‚ูˆู„ ุงุจู† ุนุทูŠุฉ ููŠ ุชูุณูŠุฑู‡ ุญูŠุซ ู‚ุงู„ : ูˆุงู„ุตุญูŠุญ ููŠ ุงู„ุขูŠุฉ ุฃู†ู‡ุง ููŠ ุงุณุชุฎู„ุงู ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุŒ ูˆุงุณุชุฎู„ุงูู‡ู… ู‡ูˆ ุฃู† ูŠู…ู„ูƒู‡ู… ุงู„ุจู„ุงุฏ ูˆูŠุฌุนู„ู‡ู… ุฃู‡ู„ู‡ุง ุ› ูƒุงู„ุฐูŠ ุฌุฑู‰ ููŠ ุงู„ุดุงู… ูˆุงู„ุนุฑุงู‚ ูˆุฎุฑุงุณุงู† ูˆุงู„ู…ุบุฑุจ. ู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ุนุฑุจูŠ : ู‚ู„ู†ุง ู„ู‡ู… ู‡ุฐุง ูˆุนุฏ ุนุงู… ููŠ ุงู„ู†ุจูˆุฉ ูˆุงู„ุฎู„ุงูุฉ ูˆุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุฏุนูˆุฉ ูˆุนู…ูˆู… ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ
โ€Pendapat ini dipilih oleh Ibnu โ€™Athiyah tatkala menafsirkan ayat tersebut, di mana ia berkata, โ€Yang benar, di dalam ayat ini terdapat janji istikhlaf atas seluruh kaum Muslim.  Yang dimaksud dengan "istikhlaafuhum" adalah menjadikan mereka menguasai bumi dan menjadi penguasanya; seperti yang terjadi di Syam, Iraq, Khurasan, dan Maghrib".  Ibnu al-'Arabiy berkata, "Ayat ini merupakan janji umum dalam masalah nubuwwah, Khilafah, tegaknya dakwah, dan berlakunya syariah secara umum."[ Imam Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, juz 12, hal. 299-202]

Adapun sunnah, banyak riwayat menjelaskan kewajiban mengangkat seorang Khalifah. Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุจูŽุงูŠูŽุนูŽ ุฅูู…ูŽุงู…ู‹ุง ููŽุฃูŽุนู’ุทูŽุงู‡ู ุตูŽูู’ู‚ูŽุฉูŽ ูŠูŽุฏูู‡ู ูˆูŽุซูŽู…ูŽุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ููŽู„ู’ูŠูุทูุนู’ู‡ู ุฅูู†ู’ ุงุณู’ุชูŽุทูŽุงุนูŽ ููŽุฅูู†ู’ ุฌูŽุงุกูŽ ุขุฎูŽุฑู ูŠูู†ูŽุงุฒูุนูู‡ู ููŽุงุถู’ุฑูุจููˆุง ุนูู†ูู‚ูŽ ุงู„ู’ุขุฎูŽุฑู
"Siapa saja yang telah membai'at seorang imam (khalifah), lalu ia memberikan uluran tangan dan buah hatinya, hendaknya ia menta'atinya jika ia mampu.  Apabila ada orang lain hendak merebutnya maka penggallah leher itu".[HR. Imam Muslim]

Kewajiban baiโ€™at menunjukkan kewajiban mengangkat seorang Khalifah.  Sebab, baiโ€™at tidak mungkin ada di pundak kaum Muslim, tanpa keberadaan seorang Khalifah. 

Selain itu, di dalam sunnah juga diriwayatkan praktek-praktek kenegaraan Rasulullah saw, dan Khulafaur Rasyidiin; dan juga bisyarah (kabar gembira) berdirinya Khilafah Islamiyyah.  Semua menunjukkan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam yang wajib ditegakkan kaum Muslim.

Adapun ijmaโ€™ shahabat, para shahabat sepakat atas kewajiban mengangkat seorang Khalifah setelah berakhirnya jaman kenabian.   Mereka menjadikan kewajiban ini sebagai kewajiban yang paling penting. Allamah Ibnu Hajar al-Haitamiy Asy Syafiโ€™iy, di dalam kitab Ash Shawaa'iqu al Muhriqah menyatakan:

ุงูุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉูŽ ุฑูุถู’ูˆูŽุงู†ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ู‰ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฃูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู’ู†ูŽ ุฃูŽุฌู’ู…ูŽุนููˆู’ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู†ูŽุตู’ุจูŽ ุงู’ู„ุฅูู…ูŽุงู…ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงูู†ู’ู‚ูุฑูŽุงุถู ุฒูŽู…ูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูุจููˆู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงุฌูุจูŒ ุจูŽู„ู’ ุฌูŽุนูŽู„ููˆู’ู‡ู ุฃูŽู‡ูŽู…ู‘ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุงุฌูุจูŽุงุชู ุญูŽูŠู’ุซู ุงุดู’ุชูŽุบูŽู„ููˆู’ุง ุจูู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฏูŽูู’ู†ู ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงุฎู’ุชูู„ุงูŽููู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู„ุชู‘ูŽุนู’ูŠููŠู’ู†ู ู„ุงูŽ ูŠูŽู‚ู’ุฏูุญู ูููŠ ุงู’ู„ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนู ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ูƒููˆู’ุฑู
"Ketahuilah juga; sesungguhnya para shahabat ra seluruhnya telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib; bahkan mereka menjadikan kewajiban tersebut (mengangkat seorang imam/khalifah) sebagai kewajiban yang paling penting.  Sebab, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban tersebut daripada kewajiban menyelenggarakan jenazah Rasulullah saw.  Perbedaan pendapat di antara mereka mengenai ta'yiin (siapa yang paling layak menjabat khalifah) tidak merusak ijma' yang telah disebut.." [โ€˜Allamah Ibnu Hajar al-Haitamiy Asy Syafiโ€™iy, Ash Shawaa'iqul Muhriqah, juz 1/25]

Pandangan Ulama Terhadap Kewajiban Menegakkan Khilafah

Ulama aswaja tidak pernah berselisih pendapat atas wajibnya menegakkan Khilafah Islamiyyah.  Imam Alauddin al-Kasaaniy, seorang ulama madzhab Hanafiy menyatakan:

ูˆูŽู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ู†ูŽุตู’ุจูŽ ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ุธูŽู…ู ููŽุฑู’ุถูŒ ุŒ ุจูู„ูŽุง ุฎูู„ูŽุงูู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุนูุจู’ุฑูŽุฉูŽ - ุจูุฎูู„ูŽุงูู ุจูŽุนู’ุถู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏูŽุฑููŠู‘ูŽุฉู - ุ› ู„ูุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนู ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽู„ูู…ูุณูŽุงุณู ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุฉู ุฅู„ูŽูŠู’ู‡ู ุ› ู„ูุชูŽู‚ูŽูŠู‘ูุฏู ุงู„ู’ุฃูŽุญู’ูƒูŽุงู…ู ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ุตูŽุงูู ุงู„ู’ู…ูŽุธู’ู„ููˆู…ู ู…ูู†ู’ ุงู„ุธู‘ูŽุงู„ูู…ู ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุทู’ุนู ุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงุฒูŽุนูŽุงุชู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู‡ููŠูŽ ู…ูŽุงุฏู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ููŽุณูŽุงุฏู ุŒ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽุตูŽุงู„ูุญู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู„ูŽุง ุชูŽู‚ููˆู…ู ุฅู„ู‘ูŽุง ุจูุฅูู…ูŽุงู…ู ุŒ ...
"Sebab, mengangkat seorang Imamul A'dzam (imam agung) adalah fardlu, tidak ada perbedaan pendapat di antara ahlul haq.  Tidak bernilai sama sekali โ€“penyelisihan sebagian kelompok Qadariyyah--, dikarenakan adanya ijma' shahabat ra atas kewajiban itu. Dan juga dikarenakan adanya kebutuhan terhadap khalifah; agar bisa terikat dengan hukum-hukum (syariat); membela orang yang didzalimi dari orang yang dzalim; memutus perselisihan yang menjadi sebab kerusakan, dan kemashlahatan-kemashlahatan lain yang tidak mungkin bisa tegak tanpa adanya seorang imamโ€ฆ"[Imam al-Kasaaniy, Badaai` al-Shanaai` fiy Tartib al-Syaraaiโ€™, juz 14/406]

Fardlu, menurut istilah madzhab Hanafiy adalah sebutan untuk โ€œkadar ketetapanโ€ yang secara syarโ€™iy ditetapkan berdasarkan dalil qathโ€™iy.  Mengingkari fardlu, murtad dari agama Islam.  Imam Sarakhsiy dalam Kitab Ushul al-Sarakhsiy menyatakan:

ูุงู„ูุฑุถ ุงุณู… ู„ู…ู‚ุฏุฑ ุดุฑุนุง ู„ุง ูŠุญุชู…ู„ ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ูˆุงู„ู†ู‚ุตุงู† ูˆู‡ูˆ ู…ู‚ุทูˆุน ุจู‡ ู„ูƒูˆู†ู‡ ุซุงุจุชุง ุจุฏู„ูŠู„ ู…ูˆุฌุจ ู„ู„ุนู„ู… ู‚ุทุนุง ู…ู† ุงู„ูƒุชุงุจ ุฃูˆ ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ู…ุชูˆุงุชุฑุฉ ุฃูˆ ุงู„ุฅุฌู…ุงุนโ€ฆ..ูˆุญูƒู… ู‡ุฐุง ุงู„ู‚ุณู… ุดุฑุนุง ุฃู†ู‡ ู…ูˆุฌุจ ู„ู„ุนู„ู… ุงุนุชู‚ุงุฏุง ุจุงุนุชุจุงุฑ ุฃู†ู‡ ุซุงุจุช ุจุฏู„ูŠู„ ู…ู‚ุทูˆุน ุจู‡ ูˆู„ู‡ุฐุง ูŠูƒูุฑ ุฌุงุญุฏู‡ ูˆู…ูˆุฌุจ ู„ู„ุนู…ู„ ุจุงู„ุจุฏู† ู„ู„ุฒูˆู… ุงู„ุฃุฏุงุก ุจุฏู„ูŠู„ู‡ ููŠูƒูˆู† ุงู„ู…ุคุฏูŠ ู…ุทูŠุนุง ู„ุฑุจู‡ ูˆุงู„ุชุงุฑูƒ ู„ู„ุฃุฏุงุก ุนุงุตูŠุง
โ€œFardlu adalah sebutan untuk suatu kadar yang secara syarโ€™iy tidak memungkinkan adanya penambahan dan pengurangan.  Fardlu adalah kadar (ketetapan) yang dipastikan, karena keberadaannya ditetapkan oleh dalil yang mewajibkan ilmu (keyakinan) secara qathโ€™iy dari al-Quran, Sunnah Mutawatir, dan Ijmaโ€™โ€ฆ.Hukum untuk jenis ini (fardlu); menurut syaโ€™iy wajib diyakini secara keyakinan (iโ€™tiqaad) dengan anggapan bahwa perkara fardlu ditetapkan berdasarkan dalil yang dipastikan kebenarannya (qathโ€™iy).  Oleh karena itu, kafirlah orang yang mengingkari fardlu; dan fardlu mewajibkan untuk diamalkan dengan anggota badan, karena di dalam dalilnya ada kewajiban untuk melaksanakannya.  Maka, orang yang menunaikan adalah orang yang taat kepada Tuhannya, sedangkan orang yang meninggalkan adalah maksiyatโ€. [Imam Sarakhsiy, Ushul al-Sarakhsiy, Juz 1/110. Maktabah Syamilah]

Khilafah Ajaran Islam

Dari sisi hukum, menegakkan Khilafah Islamiyyah adalah wajib.  Adapun dari sisi โ€˜aqidah, Khilafah termasuk janji Allah swt kepada kaum Mukmin. Bahkan, hadits-hadits yang bertutur tentang kembalinya Kekhilafahan Islam mencapai derajat mutawatir bil makna, semacam hadits-hadits yang bertutur tentang Imam Mahdiy sebagai Khalifah di akhir jaman.  

Imam Al-Kattaniy menyatakan:

ูˆููŠ ุดุฑุญ ุงู„ุฑุณุงู„ุฉ ู„ู„ุดูŠุฎ ุฌุณูˆุณ ู…ุง ู†ุตู‡ ูˆุฑุฏ ุฎุจุฑ ุงู„ู…ู‡ุฏูŠ ููŠ ุฃุญุงุฏูŠุซ ุฐูƒุฑ ุงู„ุณุฎุงูˆูŠ ุฃู†ู‡ุง ูˆุตู„ุช ุฅู„ู‰ ุญุฏ ุงู„ุชูˆุงุชุฑ, ูˆููŠ ุดุฑุญ ุงู„ู…ูˆุงู‡ุจ ู†ู‚ู„ุง ุนู† ุฃุจูŠ ุงู„ุญุณูŠู† ุงู„ุฅุจุฑูŠ ููŠ ู…ู†ุงู‚ุจ ุงู„ุดุงูุนูŠ ู‚ุงู„ ุชูˆุงุชุฑุช ุงู„ุฃุฎุจุงุฑ ุฃู† ุงู„ู…ู‡ุฏูŠ ู…ู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู…ุฉ ูˆุฃู† ุนูŠุณู‰ ูŠุตู„ูŠ ุญู„ูู‡ ุฐูƒุฑ ุฐู„ูƒ ุฑุฏุง ู„ุญุฏูŠุซ ุงุจู† ู…ุงุฌุฉ ุนู† ุฃู†ุณ ูˆู„ุง ู…ู‡ุฏูŠ ุฅู„ุง ุนูŠุณู‰
โ€œDi dalam Syarah al-Risalah, karta Syaikh Jasus, disebutkan bahwasanya berita tentang Al Mahdiy terdapat di dalam hadits-hadits yang dinyatakan oleh Al Hafidz al-Sakhawiy telah mencapai derajat mutawatir.  Di dalam Syarah al-Mawahib, dinukilkan dari al-Husain al-Ibriy di dalam Kitab Manaqib al-Syafiโ€™iy, bahwasanya ia berkata, โ€œInformasi-informasi yang menyatakan bahwa Al Mahdiy adalah bagian dari umat ini, dan โ€˜Isa as akan sholat dibelakangnya adalah mutawatir.  Ini dituturkan sebagai bantahan atas haditsnya Ibnu Majah dari Anas bin Malik ra yang menyatakan โ€ tidak ada Al-Mahdiy kecuali Nabi Isa asโ€. [Imam Al-Kattaniy, Nudhum al-Mutanaatsir min al-Hadits al-Mutawatir, Juz 1, hal.226]

Khilafah Ancaman Bagi Siapa?

Jika Khilafah ajaran Islam,  bagaimana bisa dinyatakan Khilafah merupakan ancaman bagi penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim?   Jika Khilafah merupakan kewajiban dan janji Allah swt, bagaimana bisa dinyatakan dakwah Khilafah harus ditolak dan dihadang?  Bukankah justru harus didukung dengan penuh keimanan dan ketaatan?

Lalu, siapakah pihak yang sejatinya terancam dengan dakwah Khilafah?  Jawabnya; pertama, negara kafir imperialis dan kroni-kroninya yang berusaha mati-matian mempertahankan system demokrasi-sekuler dan penjajahan atas negeri-negeri kaum Muslim.  Sebab, mereka memahami bahwa Khilafah akan mengakhiri system demokrasi-sekuler dan penjajahan atas dunia Islam.  Khilafah juga akan mengembalikan hak-hak dan asset-asset milik rakyat yang saat ini dikuasai korporasi asing.  Kedua, pihak yang tidak menginginkan Muslim seluruh dunia bersatu. Mereka adalah orang kafir dan munafik yang menginginkan perpecahan di tengah-tengah kaum Muslim. Ketiga, pihak yang mendapatkan manfaat dari system demokrasi-sekuler, dan tidak rela kemashlahatan itu lenyap ketika Khilafah berdiri.

Dakwah syariah dan Khilafah tentu saja bukanlah ancaman bagi kaum Mukmin.  Sebab, keduanya adalah ajaran Islam.  Dakwah syariah dan Khilafah juga bukan ancaman bagi non Muslim.  Sebab, Khilafah melindungi hak-hak mereka, memperlakukan mereka secara adil, dan menebarkan rahmat bagi seluruh penjuru alam.

Setelah penjelasan ini, masihkah ada pihak yang menolak dan menghadang dakwah syariah dan Khilafah? (Gus Syams).

Terkait :


Update: 2025-03-14T21:39:20.000+07:00
Keywords: definisi, khilafah, ajaran, islam
0 comments


0 comments:

Posting Komentar

Artikel Arsitektur dan Konstruksi

  • Struktur bangunan adalah : Fungsi struktur
     Struktur bangunan adalah bagian dari sebuah sistem bangunan yang bekerja untuk menyalurkan beban yang diakibatkan olehโ€ฆ
  • Jembatan Beton Bertulang pada superstruktur jembatan jalan raya
    Selengkapnya tentang Bentuk Struktur Jembatan D. Jembatan Beton BertulangGambar dibawah. memberikan gambaran tentangโ€ฆ
  • Proses Produksi Besi Beton SNI
    Proses Produksi Besi Beton SNI dimulai dengan standar ketat untuk memastikan kualitas dan kekuatan produk yang memenuhi kebutuhanโ€ฆ
  • Membuat Gambar Kerja dan Daftar Komponen untuk Proyeksi Bangunan
     Membuat Gambar Kerja dan Daftar KomponenGambar kerja merupakan dasar bagi pelaksana untuk melakukan  pekerjaanโ€ฆ
  • Menggambar Sketsa untuk Proyeksi Bangunan
    Gambar sketsa adalah pembuatan gambar tanpa melalui alat bantu menggambar yang biasa digunakan, yaitu penggaris. Alat bantuโ€ฆ
  • Jembatan Beton Prestress / Pratekan
    Selengkapnya tentang Bentuk Struktur JembatanE. Jembatan Beton Prestress / PratekanBeton pratekan dengan bahan berkekuatanโ€ฆ
 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online


Didukung oleh: Suwur - Tenda SUWUR - OmaSae - Blogger - JayaSteel - Air Minum Isi Ulang - TAS Omasae - Furniture - Rumah Suwur - Bengkel Las -