[iklan]
daftar-harga-wiremesh-agustus-2019

Ayah ingin memiliki jejak dakwah, hingga khilafah tegak

JERITAN HATI SEORANG AYAH

Oleh : Nasrudin Joha

Ah, andai saja dunia ini selamanya, dan semua yang dihamparkan ini abadi untuk dimiliki, tentu tidak perlulah ayah berkorban untuk akherat. Andai saja, tidak ada iman pada kehidupan yang sesungguhnya, dimana ayah sangat menginginkan abadi bersamamu, bersama adik dan kakakmu, bersama ibumu, niscaya ayah akan selalu di rumah bersamamu.

Sungguh indah, hari-hari bisa selalu berada di rumah, bermain denganmu, juga adik dan kakakmu. Bercanda bersama ibumu, yang juga bidadariku di dunia ini.

Namun ayah tahu, ayah meyakini, apa yang disampaikan oleh lisan Nabi kita, Rasulullah SAW. Dunia ini hanya sementara, akherat selamanya.

Karena itu, jelas aku memilih berkorban di dunia, berpisah denganmu, dengan adik dan kakakmu, dengan ibumu yang juga belahan jiwaku. Demi apa? Demi kehidupan kita yang sejati, di surga, yang dengan janji ini dahulu aku meminang ibumu untuk menjadi istriku.

Wahai anaku sayang, yang sholeh dan sholeha. Ridlalah atas keterpisahan sementara di dunia, demi kebersamaan abadi di surga-Nya.

Sungguh, hanya tanggung jawab nafkah dan amanah dakwah, yang membuat ayah meninggalkamu. Selebihnya, ayah pasti kembali kepadamu, kepada adik dan kakakmu, kepada ibumu yang juga bidadari.

Suatu waktu, aku meninggalkamu demi nafkah. Karena tanggung jawab nafkah ada pada pundakku, meski rezeki dijamin oleh Allah SWT. Dalam waktu yang lain, aku wajib meninggalkanmu demi dakwah, sebab jelas aku lebih memilih Allah SWT dibanding anak istri, keluarga, rumah, atau perhiasan dunia lainnya.

Kenapa aku lakukan itu? Ya, karena aku hanya ingin berpisah sementara, dan tak ingin dipisahkan selamanya. Aku yakin, keterpisahan kita hanya sementara, hanya saat di dunia. Sementara di akherat, kita akan kekal berkumpul di surga-Nya.

Wahai anaku, aku tiada memiliki perbendaharaan harta untuk disedekahkan menjadi amal jariyah. Aku juga bukan seorang yang faqih, sehingga kealimanku juga bisa menjadi peninggalan jariyah. Aku inginkan engkau menjadi anak sholeh, jelas iya. Namun aku tak mau menunggu memiliki bekal amal jariyah hanya menunggu dari perbendaharaan anak sholeh.

Karena itu, ayah berdakwah. Ayah sedang berinvestasi jariyah, untuk masa depan ketika Allah SWT menjemput, memanggil menghadap-Nya, maka peninggalan amal dakwah itu yang ayah harapkan akan terus mengirim pahala jariyah.

Ayah ingin memiliki jejak dakwah, hingga khilafah tegak. Sehingga kelak, setiap khilafah menebarkan kebajikan, membebaskan umat dari kesyirikan, membagi harta, menyantuni orang fakir dan miskin, melindungi para janda dan yatim, mendidik umat, melindungi umat, mengarahkan umat pada ketaatan, maka pahala dari kebajikan-kebijakan khilafah, ayah akan mendapat bagiannya.

Anaku, ayah bersumpah pada periode ayah khilafah tegak. Dan ayah berusaha, pada periode ayah, kota Roma ditaklukan bersama pasukan kaum muslimin. Namun jika Saat khilafah tegak, ayah telah wafat sementara kota Roma belum ditaklukan, maka berangkatlah ke Roma untuk menaklukannya, inilah wasiat ayah. [].

0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online