*KEBERANIAN DALAM MENYAMPAIKAN KEBENARAN*
_โWahai paman, Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, supaya aku meninggalkan perkara (dakwah Islam) ini, aku tidak akan pernah meninggalkannya hingga perkara itu dimenangkan Allah Subhana wa Taโala atau aku binasa karena membelanya.โ_
*(Sirah Ibn Katsir)*

Saat ini, tak sedikit kaum Muslim, termasuk para tokoh agamanya-kiai, ustadz, mubaligh, dll-yang masih ragu atau malah khawatir dalam menyampaikan kebenaran Islam secara tegas, lugas dan terang-terangan dengan beragam alasan dan pertimbangan.
Ada yang karena khawatir menyinggung orang/jamaah sehingga ia dijauhi masyarakat. Ada yang karena tidak โpedeโ dengan Islam yang dipeluknya, terutama saat dihadapkan pada sejumlah fitnah yang mengaitkan Islam dengan terorisme. Ada yang karena ingin dicap moderat dan khawatir dicap fundamentalis. Demikian seterusnya.
Beragam alasan diatas tentu tidak layak dijadikan dalih untuk menyampaikan kebenaran Islam secara tegas, lugas dan terus terang. Setiap Muslim, apalagi pengemban dakwah, tentu harus mencontoh bagaimana keberanian dan keteguhan Baginda Rasulullah _Sholallahu Alaihi wa Sallam_, dalam menyampaikan risalah Islam kepada umatnya.
Para penulis sejarah senantiasa menyebutkan sebuah peristiwa yaitu ketika telah turun firman Allah Subhana wa Taโala :
_ โBerilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekatโ_ *(QS asy-Syuโara [26]:214)*
Lalu Baginda Nabi _Sholallahu Alaihi wa Sallam_ , pergi ke Shafa. Beliau mengetahui apa yang mungkin menimpa dirinya. Beliau kemudian berseru, _โSelamat pagi, Wahai manusia!โ_
Orang-orang lalu berdatangan dan berkumpul disekitar beliau, lalu beliau berkata : _โWahai bani Abdul Muthalib, Bani Fihr, dan Bani Luhay, apakah pendapat kalian seandainya aku memberi tahu kalian bahwa ada sebuah pasukan berkuda berada dibalik bukit ini ingin menghancurkan kalian? Apakah kalian akan membenarkan ucapanku?โ_
Mereka berkata : _โYa.โ_
Lalu Beliau bersabda: _โSesungguhnya aku memberikan peringatan kepada kalian bahwa didepanku ada azab yang pedihโ._ *(HR al-Bukhari)*
Para penulis sejarah juga senantiasa meyebutkan bahwa orang-orang Quraisy telah berkata kepada paman Rasulullah _Sholallahu Alaihi wa Sallam_ , Abu Thalib,
_โWahai Abu Thalib, sesungguhnya engkau orang yang dituakan, memiliki kedudukan dan kehormatan dikalangan kami. Sesungguhnya kami telah meminta engkau melarang kemenakanmu, tetapi engkau tidak sanggup melarangnya. Demi Allah, kami tidak bisa bersabar lagi mendengar penghinaan terhadap nenek moyang tuhan-tuhan kami dan pembodoh-bodohan mimpi-mimpi keponakanmu itu atau kami menghadapinya sendiri hingga salah satu dari dua pihak ada yang binasa.โ_
*Abu Thalib* segera menemui Rasulullah _Sholallahu Alaihi wa Sallam_ dan berkata kepadanya,
_โWahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah mendatangiku, dan mengatakan kepadaku begini dan begitu. Karena itu, tetaplah engkau bersamaku, jagalah dirimu, dan jangan bebani aku dengan persoalan yang tak sanggup kupikul.โ_
Akan tetapi, ucapan mereka itu tidak sanggup benggoyahkan kekuatan semangat Rasulullah _Sholallahu Alaihi wa Sallam_ bahkan keberanian hati beliau malah mendorongnya mengucapkan kata-kata yang senantiasa akan menjadi pelita bagi para pengemban dakwah di manapun dan kapanpun; beliau bersabda :
_โWahai paman, Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan di tangan kiriku, supaya aku meninggalkan perkara (dakwah Islam) ini, aku tidak akan pernah meninggalkannya hingga perkara itu dimenangkan Allah Subhana wa Taโala atau aku binasa karena membelanya.โ_ *(Sirah Ibn Katsir)*
Masih banyak tindakan lain yang menggambarkan keberanian Rasulullah _Sholallahu Alaihi wa Sallam_ dalam perjalanan hidupnya yang mulia saat menyampaikan risalah dan kebenaran Islam. Tentu, kewajiban kita, setiap Muslim untuk melakukan hal yang sama.
_Wa maโ tawfaqi illa billah_ []
_*Indahnya Islam jika diterapkan Total*_
*Silahkan sebarkan dan jadikan amal soleh
Semoga Allah Azza Wa Jalla Merahmati kita semua
*Alhamdulillahโฆ hanya Allah yang berhak dipuji.*
_โWahai paman, Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, supaya aku meninggalkan perkara (dakwah Islam) ini, aku tidak akan pernah meninggalkannya hingga perkara itu dimenangkan Allah Subhana wa Taโala atau aku binasa karena membelanya.โ_
*(Sirah Ibn Katsir)*

Saat ini, tak sedikit kaum Muslim, termasuk para tokoh agamanya-kiai, ustadz, mubaligh, dll-yang masih ragu atau malah khawatir dalam menyampaikan kebenaran Islam secara tegas, lugas dan terang-terangan dengan beragam alasan dan pertimbangan.
Ada yang karena khawatir menyinggung orang/jamaah sehingga ia dijauhi masyarakat. Ada yang karena tidak โpedeโ dengan Islam yang dipeluknya, terutama saat dihadapkan pada sejumlah fitnah yang mengaitkan Islam dengan terorisme. Ada yang karena ingin dicap moderat dan khawatir dicap fundamentalis. Demikian seterusnya.
Beragam alasan diatas tentu tidak layak dijadikan dalih untuk menyampaikan kebenaran Islam secara tegas, lugas dan terus terang. Setiap Muslim, apalagi pengemban dakwah, tentu harus mencontoh bagaimana keberanian dan keteguhan Baginda Rasulullah _Sholallahu Alaihi wa Sallam_, dalam menyampaikan risalah Islam kepada umatnya.
Para penulis sejarah senantiasa menyebutkan sebuah peristiwa yaitu ketika telah turun firman Allah Subhana wa Taโala :
_ โBerilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekatโ_ *(QS asy-Syuโara [26]:214)*
Lalu Baginda Nabi _Sholallahu Alaihi wa Sallam_ , pergi ke Shafa. Beliau mengetahui apa yang mungkin menimpa dirinya. Beliau kemudian berseru, _โSelamat pagi, Wahai manusia!โ_
Orang-orang lalu berdatangan dan berkumpul disekitar beliau, lalu beliau berkata : _โWahai bani Abdul Muthalib, Bani Fihr, dan Bani Luhay, apakah pendapat kalian seandainya aku memberi tahu kalian bahwa ada sebuah pasukan berkuda berada dibalik bukit ini ingin menghancurkan kalian? Apakah kalian akan membenarkan ucapanku?โ_
Mereka berkata : _โYa.โ_
Lalu Beliau bersabda: _โSesungguhnya aku memberikan peringatan kepada kalian bahwa didepanku ada azab yang pedihโ._ *(HR al-Bukhari)*
Para penulis sejarah juga senantiasa meyebutkan bahwa orang-orang Quraisy telah berkata kepada paman Rasulullah _Sholallahu Alaihi wa Sallam_ , Abu Thalib,
_โWahai Abu Thalib, sesungguhnya engkau orang yang dituakan, memiliki kedudukan dan kehormatan dikalangan kami. Sesungguhnya kami telah meminta engkau melarang kemenakanmu, tetapi engkau tidak sanggup melarangnya. Demi Allah, kami tidak bisa bersabar lagi mendengar penghinaan terhadap nenek moyang tuhan-tuhan kami dan pembodoh-bodohan mimpi-mimpi keponakanmu itu atau kami menghadapinya sendiri hingga salah satu dari dua pihak ada yang binasa.โ_
*Abu Thalib* segera menemui Rasulullah _Sholallahu Alaihi wa Sallam_ dan berkata kepadanya,
_โWahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah mendatangiku, dan mengatakan kepadaku begini dan begitu. Karena itu, tetaplah engkau bersamaku, jagalah dirimu, dan jangan bebani aku dengan persoalan yang tak sanggup kupikul.โ_
Akan tetapi, ucapan mereka itu tidak sanggup benggoyahkan kekuatan semangat Rasulullah _Sholallahu Alaihi wa Sallam_ bahkan keberanian hati beliau malah mendorongnya mengucapkan kata-kata yang senantiasa akan menjadi pelita bagi para pengemban dakwah di manapun dan kapanpun; beliau bersabda :
_โWahai paman, Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan di tangan kiriku, supaya aku meninggalkan perkara (dakwah Islam) ini, aku tidak akan pernah meninggalkannya hingga perkara itu dimenangkan Allah Subhana wa Taโala atau aku binasa karena membelanya.โ_ *(Sirah Ibn Katsir)*
Masih banyak tindakan lain yang menggambarkan keberanian Rasulullah _Sholallahu Alaihi wa Sallam_ dalam perjalanan hidupnya yang mulia saat menyampaikan risalah dan kebenaran Islam. Tentu, kewajiban kita, setiap Muslim untuk melakukan hal yang sama.
_Wa maโ tawfaqi illa billah_ []
_*Indahnya Islam jika diterapkan Total*_
*Silahkan sebarkan dan jadikan amal soleh
Semoga Allah Azza Wa Jalla Merahmati kita semua
*Alhamdulillahโฆ hanya Allah yang berhak dipuji.*
0 comments:
Posting Komentar