Bagi penguasa dan rakyat, maknai Idul Fitri 1438H sesuai perintah Allah Swt

TUJUH PESAN POLITIK IDUL FITRI 1438H

Oleh Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)


Ramadhan kali ini tak sepi dari polemik. Setidaknya menandakan bangsa ini tak sepi dari masalah, hingga pada akhirnya pemilik kuasa tak memiliki jalan keluar. Buntu dan berputar di setiap persoalan. Dikatakan sebagai bangsa yang dewasa pun, tampaknya masih perlu upaya maksimal menuju ke sana. Segala masukan dan kritik oleh rakyat, dimaknai berbeda oleh penguasa. Tampak kuat rakyat ingin dikerangkeng dalam kebodohan politik. Rakyat dianggap sebagai pengacau dan perusak skenario mereka untuk tetap berkuasa. Kondisi ini menunjukan sikap seolah negara miliknya sendiri, tanpa mau berkompromi dan mendengar aspirasi.

Pada kesempatan hari raya ini, ada pesan politik bagi penguasa negeri ini dan rakyat Indonesia:

Pertama, penguasa adalah pelayan rakyat. Mengurusi kepentingan rakyat itu kewajiban, bukanlah beban. Meringankan beban berupa kebutuhan sandang, pangan, papan, dan energi juga ibadah. Siapa yang menunaikannya, maka sebagai bentuk ibadah dan taat. Sebaliknya, mengabaikannya bentuk kemaksiatan terbesar. Sungguh kecelakaan besar, tatkala penguasa tidak bisa amanah.

Kedua, momentum hari raya biasanya digunakan silaturahim dan saling memafaakan. Rakyat akan ikhlas mendoakan penguasa jika mengurusi mereka. Sebaliknya, doa bagi yang terdzalimi akan mudah dikabulkan dan menjadi bumerang. Pada periodesasi setengah kepemimpinan ini negara sudah gonjang-ganjing. Penguasa sibuk dan bergulat sesama, sebaliknya rakyat dibiarkan merana.

Ketiga, hentikan segala bentuk menakut-nakuti umat. Kriminalisasi, pemenjaraan, dan perang opini yang dilancarkan penguasa telah benar-benar melukai rakyat. Sebaliknya, penguasa tak pernah koreksi diri dan bermuhasabah sehingga betul-betul jadi penguasa yang didamba.

Keempat, hari raya adalah hari kemenangan bagi orang beriman. Keimanan penguasa dan rakyat dibuktikan dengan ketundukan pada aturan Allah Swt. Ini sesungguhnya harga mati dan persaksian sebagai hamba. Pembangkangan dan pengabaian syariah Islam dalam hidup mengakibatkan negeri ini bermasalah. Jadi, Islam datang memberi solusi bukan menambah masalah.

Kelima, kesadaran umat Islam terkait identintas politiknya membuktikan rakyat kian cerdas. Kepeduliaanya terhadap urusan bangsa harus dimaknai sebagai berkah. Ketakutan kesadaran ini merupakan bukti kekalahan intelektual penguasa. Hal ini menunjukan bahwa tujuan mereka selama ini mencari dunia dan harta. Padahal amanah berkuasa itu juga harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Jangan sampai menjadi orang-orang yang merugi.

Keenam, dunia sudah berubah. Perpecahan dan peperangan tak dapat dihindarai akibat manuver politik dan intrik negara berpengaruh di dunia. Dunia Islam pun masih dikerat-kerat dan dirampok kekayaanya. Kondisi dunia Islam tak lagi berdaya dan tanpa pelindung. Umat pun menyaksikan Islamophobia di Barat dan Asia Timur. Darah, hak hidup, dan hartanya dihinakan. Umat pun menuntut kembali kepada Khilafah. Trend khilafah inilah yang harus bisa dimaknai dan disikapi secara proporsional, tanpa meniadakannya sebagai khazanah Islam. Sedikit pun, jangan membeci dan mencela Khilafah. Orang-orang kafir saja menyakininya, seharusnya umat Islam pun lebih meyakini dan mewujudkan Khilafah.

Ketujuh, kini semua merayakan satu hari yang indah, Idul Fitri. Inilah hari saat kembali berbuka setelah selama sebulan penuh berpuasa. Pada hari ini kita pantas berbahagia karena Rasulullah saw. pun telah bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ.
Bagi orang berpuasa ada dua kebahagiaan yaitu: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Tuhannya (di surga) (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Bagi penguasa dan rakyat, maknai Idul Fitri 1438H sesuai perintah Allah Swt. Kemenangan penguasa pasca Ramadhan dibuktikan dengan lemah lembut pada rakyatnya dan kembali mengatur kenegaraan dengan aturan Allah Swt. Kemenangan Idul Fitri bagi rakyat dibuktikan dengan terus berjuang dan memberikan koreksi kepada penguasa jika melenceng dari Syariah. Sungguh kemenangan hakikin momen ini adalah saatnya Bela Islam, Tegakkan Syariah Kaffah, dan Rekatkan Ukhuwah Islamiyah.
0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online