[iklan]
belum ada iklan

Pemimpin dalam Islam dipilih berdasarkan kelayakan dan profesionalismenya

KORUPTOR BERKALUNG SURBAN

Oleh: Ragil Rahayu, SE (Pengamat Politik Dan Ekonomi di Jatim)

Jumat (15/3/2019) lalu menjadi hari kelabu bagi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy. Romy ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) di restoran Hotel Bumi Hyatt Surabaya. Selain Romy, KPK menangkap Haris Hasanuddin, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur dan Muhammad Muafaq Wirahadi, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik. Pada OTT ini KPK menemukan uang sejumlah Rp 156,758 juta yang diduga terkait dengan transaksi pengisian jabatan di Kemenag.

Kasus jual beli jabatan di Kemenag ini kontan menyentak publik. Betapa tidak, kementerian ini berisi orang-orang yang dipandang faqih dalam agama. Namun ternyata tak bersih dari kasus korupsi. Apalagi pelakunya adalah seorang ketua umum partai dengan basis massa Islam. Romy juga dikenal memiliki trah pesantren sehingga dipanggil Gus. Cicit KH Wahab Hasbullah ini sering bergaya Islami milenial dengan mengalungkan surban di lehernya. Hingga muncul julukan "Koruptor Berkalung Surban" dari netizen. Kasus ini seolah membuka kotak pandora korupsi yang menyelimuti kemenag. Satu demi satu fakta diungkap. Termasuk pengakuan Prof. Mahfud MD di sebuah stasiun televisi bahwa seorang calon rektor UIN terpilih diminta menyetor dana Rp 5 Miliar agar bisa dilantik. Sungguh ironis.

Keterlibatan tokoh Islam pada kasus korupsi membuat banyak pihak merasa miris. Sistem politik #Indonesia yang sekuler dan machiavelis telah menjadikan para politisi muslim menggadaikan Islam demi kekuasaan. Islam yang dianut tak menjadikan mereka taat pada syariat-Nya yang mengharamkan risywah (suap). Sistem demokrasi nan mahal telah membuat politisi harus menghalalkan segala cara untuk mendulang suara. Maka keberadaan kader di pemerintahan menjadi sapi perah bagi partai. Apalagi di tahun #politik seperti sekarang. Hajatan pilpres dan pileg membuat partai butuh dana besar-besaran untuk kampanye, iklan, pengumpulan massa dan sebagainya. Akibatnya, rakyat yang dikorbankan. Dipaksa membayar pajak dengan tepat waktu, namun hasilnya ternyata dibuat bancakan penguasa.

Kasus ini membuka tabir demokrasi. Bahwa demokrasi ternyata sistem korup. Sistem yang memproduksi politisi serakah. Menjarah uang negara tanpa rasa malu, demi nafsu kekuasaan. Namun kasus ini tak melulu tentang Romy dan rekannya. Mereka hanya sampel dari sebuah populasi besar. Sejatinya, banyak Romy-Romy lain di luar sana. Semua partai menyumbang nama kadernya yang terjerat kasus rasuah. Bahkan beberapa ketua partai telah menghuni lembaga pemasyarakatan. Situasi ini hendaknya menyadarkan kita untuk meninggalkan sistem politik yang korup ini dan beralih pada politik Islam.

Politik #Islam menjadikan aqidah Islam sebagai asas dan terwujudnya kehidupan Islam sebagai tujuan. Islam tak boleh diperalat untuk menggaet dukungan umat, lalu ditinggalkan kala kekuasaan sudah digenggam. Dalam Islam, kedaulatan ada di tangan syara'. Sehingga mencegah praktik politik Machiaveli yang menghalalkan segala cara. Termasuk praktik risywah (suap), nepotisme dan penyalahgunaan jabatan. Politik Islam ini dipraktikkan di masa #khilafah. Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika berkuasa telah menarik sejumlah besar harta dari penguasa Bani Umayah. Diduga, harta tersebut adalah hasil ghulul. Padahal mereka adalah saudara dan keluarganya sendiri. Tak ada korupsi, tak ada nepotisme atau penyalahgunaan kekuasaan. Pemimpin dalam Islam dipilih berdasarkan kelayakan dan profesionalismenya, bukan karena setoran dana pelicin. Sistem politik Islam inilah yang harus diperjuangkan keberadaannya di tengah masyarakat. Agar rakyat merasakan indahnya kehidupan yang bersih, bebas korupsi.

0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online