Pemimpin dan Sistem Kepemimpinan Islam

Merindukan Pemimpin dan Sistem Kepemimpinan Islam
Umar bin Khattab adalah Khalifah kedua setelah Abu Bakar. Beberapa sifatnya yang sering kita dengar adalah memiliki sikap yang tegas, pemberani dan keras. Namun ternyata di balik sikapnya yang keras, ia memiliki sikap yang lemah lembut kepada rakyat kecil. Begitu besar perhatian dan kecintaan terhadap rakyatnya. Begitu maksimal dalam mengurus dan mengayomi rakyatnya.

Kala itu seluruh bumi Hijaz tengah dilanda musim paceklik yang sangat panjang. Selama 9 bulan bumi Hijaz mengalami kekeringan. Air dan makanan sangat sulit didapat. Padahal itu semua merupakan sumber penghidupan. Sudah pasti banyak rakyat yang kelaparan. Kelaparan berkepanjangan menimbulkan bencana susulan berupa penyakit dan kematian. Hal ini membuat Amirul Mukminin, Umar bin Khattab sedih. Sebagian besar dari mereka banyak yang mengungsi ke Madinah.

Dari sejak awal, Umar RA pun tak tinggal diam. Ia telah berusaha semaksimal mungkin bahkan memberikan sebagian besar hartanya untuk membantu rakyatnya. Khalifah Umar bahkan bersumpah tidak akan makan daging dan minum susu sampai cobaan ini berlalu. Ia sempat marah kepada pembantunya ketika diberi makan daging. Umar justru hanya meminta roti dan minyak zaitun saja. Ia berkata : “Bagaimana aku bisa memahami penderitaan rakyat, bila aku sebagai pemimpin malah enak-enakan di atas penderitaan rakyat dengan memakan daging, sementara di luar sana banyak yang kelaparan. Umar RA juga sempat berkata “Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan”. Wajah Khalifah Umar pun tampak pucat dan tubuhnya lemah karena hanya memakan roti dan minum minyak zaitun. Namun itu tak membuatnya merasa berat, karena yang ia takutkan adalah pertanggungjawaban di akhirat kelak atas amanah yang telah dipikulnya.
Para wali atau gubernur di luar Madinah pun dimintai olehnya bantuan agar ikut serta menolong saudara mereka. Setelah bantuan tiba, Khalifah Umar ikut turun membagikan makanan bagi para penduduk. Beliau tak ragu untuk mengotori tangannya dengan mengolah roti bercampur zaitun. Selain itu, Amirul Mukminin mengajak rakyat bermunajat kepada Allah SWT dengan melakukan shalat istisqa untuk meminta hujan. Hingga setelah waktu berlalu, Allah SWT mengabulkan doa mereka dengan menurunkan hujan, rahmat dan berkahnya.

Dari kisah Khalifah Umar di atas, sudah selayaknya para pemimpin negeri ini bercermin dan memuhasabahi diri. Sudah benarkah tugas yang mereka lakukan selama ini? Sudah adilkah perbuatan mereka terhadap rakyatnya? Kala ujian dan bencana melanda, sudah maksimalkah bantuan yang mereka berikan kepada rakyatnya? Tak mudah memang menjadi seorang Pemimpin atau kepala negara. Ia tak hanya sekedar simbol dalam sebuah negara. Tapi ia memiliki peran yang sangat penting bagi rakyatnya. Ia memiliki kewajiban dan amanah yang tak sedikit. Di tangannya lah seharusnya kesejahteraan dapat diwujudkan. Bagi khalifah-khalifah terdahulu, jabatan kepala negara bukanlah sesuatu yang diinginkan atau diimpikan. Bahkan mereka berusaha untuk menolaknya karena takut akan azabnya jika tak mampu berbuat adil dan benar dalam menjalankannya.

Berbeda dengan saat ini, orang telah berlomba-lomba untuk dapat duduk di tampuk kekuasaan atau untuk mendapatkan jabatan. Dahulu pun, Rasulullah SAW pernah menolak permintaan salah seorang sahabat yang meminta jabatan kepadanya, Rasul berkata “Kami tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang memintanya dan berambisi untuk mendapatkannya.” (Fathul-Bâri Syarah Shahîh al-Bukhâri, Ibnu Hajar al-Asqalâni)

Dalam Islam seorang pemimpin adalah pengayom dan pelayan bagi rakyatnya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Untuk menjadi seorang kepala negara, ada tata cara yang dilalui dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Adapun syarat in’iqad (syarat legal) seorang pemimpin atau kepala negara dalam sistem Islam adalah (1) Muslim, (2) laki-laki, (3) baligh, (4) berakal, (5) adil, (6) merdeka, (7) mampu. Apabila 1 syarat saja tidak terpenuhi, maka tidak syah akad kepemimpinannya. Selain itu ada beberapa syarat afdhaliah (keutamaan) bagi calon pemimpin yaitu harus dari kalangan Quraisy, harus seorang mujtahid atau ahli menggunakan senjata. Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Al-Afkar as-Siyasiyyah juga menyebutkan beberapa karakter seorang pemimpin yaitu berkepribadian kuat, bertakwa, memiliki sifat welas asih, dan penuh perhatian kepada rakyatnya.

Tak sekedar ketaqwaan dan kesolehan individu seorang pemimpin saja. Islam juga telah mengajarkan kita sistem kepemimpinan syar’i yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para khalifah setelahnya. Pemerintahan Islam didasarkan pada prinsip kedaulatan di tangan syariah dan kekuasaan di tangan rakyat. Kedaulatan di tangan syariah bermakna bahwa hak untuk membuat hukum hanyalah milik Allah SWT. Tak bisa manusia bahkan Khalifah sekalipun membuat aturan nya sendiri. Hanya syariah-Nya lah yang diterapkan di muka bumi ini untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Adapun kekuasaan di tangan rakyat bermakna rakyat memiliki kewenangan untuk mengangkat kepala negara atau pemimpin yang akan mengatur urusan mereka dengan syariah Islam.

Sungguh kita merindukan sosok pemimpin yang bertaqwa dan perhatian terhadap rakyatnya. Begitupun dengan sistem kepemimpinan syar’i nya, kita harus merindukannya bahkan berusaha untuk mewujudkannya. Tanpa sistem kepemimpinan syar’i, umat hanya akan mengalami kekecewaan yang berulang. Didzalimi dan dilupakan ketika sudah mendapatkan jabatan dan kekuasaan. Begitu pula dengan musibah dan ujian yang datang silih berganti menimpa negeri ini, bisa jadi merupakan teguran dari Sang Pencipta atas kelalaian dan kemaksiatan yang kita lakukan dengan tidak berhukum kepada aturan-Nya. Wallohu a’lam bish-shawab.

(Nina Marlina, A.Md., Staf LPK Pimba Rancaekek Bandung)
0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online