PONDASI BERBISNIS SESUAI SYARIAH

Abdullah Makrus Ust:

MEMBANGUN PONDASI BERBISNIS SESUAI SYARIAH, JADIKAN BISNIS MENJADI KENDARAAN MENUJU JANNAH



Pada ahad, 18 Maret 2018 puluhan pengusaha dan calon pengusaha berkumpul di Resto Majelis Mie Cabang Sidoarjo bertempat di Jalan Raya Ponti 16 Sidoarjo (utara GOR Sidoarjo). Mereka berkumpul bukan karena hanya alasan ngobrol tiada arti, namun mereka sedang antusias mendengarkan kajian yang digelar oleh sebuah komunitas bisnis bernama SOHIB (SObat HIdup Berkah) Sidoarjo.

Kajian yang bertemakan, "Membangun Pondasi Bisnis Berbasis Iman" yang diisi oleh Abdulah Makhrus, seorang pengusaha bimbingan belajar, trainer asal Sidoarjo sekaligus pengurus SOHIB pusat membongkar kesalahan-kesalahan pebisnis dalam membuka usaha. Dijelaskan bahwa selama ini sebagian besar pebisnis termasuk masyarakat memiliki pondasi yang salah dalam memahami konsep rezeki.

Dari penjelasan kajian dibongkar secara detail terkait memahami bahwa konsep rezeki di dalam Islam berbeda dengan pemahaman masyarakat  terkait  sistem kapitalis yang sudah banyak berlaku di masyarakat. Bahwa di dalam Islam, memahami konsep rezeki dimulai dari memahami bahwa semua rezeki berasal dari Allah.

Dibahas pula landasan beramal seorang muslim agar nilainya tidak sia-sia di hadapan Allah maka semua aktivitas harusnya terikat hukum Allah yaitu berbasis iman, niat ikhlas dan sesuai tuntunan rasulullah. Termasuk memahami konsep kehidupan yang benar dengan memahami  darimana manusia berasal, untuk apa ia hidup dan akan kemana ia kembali di hadapan Allah.

Pada intinya, dijelaskan secara gamblang bahwa besarnya harta yang dikejar oleh pengusaha jangan sampai melalaikannya pada ketaatan pada Allah. Menjaga ketaatan pada Allah saat ia melakukan transaksi jual beli dan aktivitas yang mengharuskan adanya aturan Allah yang harus ditaati.

Pemateri mengingatkan bahwa jangan sampai seorang pengusaha mengejar kenikmatan dunia yang dijelaskan dalam hadis hanya setetes air dari jari yang dicelupkan ke dalam lautan lantas ia melupakan kenikmatan hakiki yaitu surga yang luasnya ibarat laut dibandingkan air yang ia dapatkan dari mencelupkan jarinya.

Di sesi pertanyaan ada seorang pengusaha yang bertanya apakah boleh seseorang berbisnis dengan jalan berhutang untuk mencari modalnya. Pertanyaan lain ada pengusaha menanyakan, bagaimana jika ia terpaksa dan dipaksa oleh sebuah sistem yang tidak melaksanakan hukum syariah dalam transaksi bisnis. Contohnya seperti kewajiban membayar pajak, padahal tidak  menjadi keharusan dalam sistem Islam karena negara semestinya menggali sumber lain yang jumlahnya lebih besar daripada pajak di dalam mengelola keuangan negara.

Pemateri juga menjelaskan bahwa, ketika berbisnis sebaiknya tidak berorientasi mencari modal dengan jalan hutang karena akan membuat seorang pengusaha tidak fokus mengembangkan bisnis karena ia akan lebih terfokus untuk melunasi hutangnya. Termasuk dijelaskan pula bahwa sebagai seorang pengusaha, kita juga harus berusaha mengubah keadaan sistem negara tadi yang tidak berdasar syariah dengan jalan dakwah sesuai tuntunan Rasulullah agar ia bisa berbisnis sesuai syariah dengan lebih mudah.

Tentu saja dengan metode tanpa kekerasan, dan mengalokasikan waktu untuk menggali lebih dalam mempelajari Islam dan cara mendakwahkannya di tengah masyarakat. Karena perlu disadari bahwa dakwah bukan hanya tugas para ustadz saja, namun pengusaha juga memiliki peran untuk berdakwah sebagaimana para sahabat yang memiiki bisnis sebagaimana Abdurrahman Bin Auf, Abu Bakar, Umar Bin Khattab.

Alhamdulillah beberapa pengusaha berkomitmen melunagkan waktu untuk mengkaji islam lebih rutin di rumah pemateri. Belajar Islam, belajar berbisnis sesuai syariah dan belajar mendakwahkan Islam sesuai profesinya sebagai seorang pengusaha. Ia bisa mendakwahi karyawannya atau rekan bisnisnya. Itulah peran pengusaha muslim di tengah masyarakat yang ditunggu kiprahnya dalam dakwah guna membumikan syariah Allah sesuai kemampuannya. InsyaAllah.

0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online