Pelaku Maksiyat vs Pejuang Paham Kemaksiatan

Khozin:

Menanggapi kasus LGBT di Pesantren

Harus dibedakan antara Pelaku Maksiyat dengan Pejuang Paham Kemaksiatan ( istilah al faqir ).

Pelaku maksiyat bisa menimpa siapapun, termasuk orang-orang yang beriman. Karena keimanan seseorang bisa naik dan pada saat yang lain, bisa turun. Ketika iman seseorang sedang turun dan terbuka lebar kesempatan untuk bermaksiat, maka boleh jadi, orang yang imannya sedang turun akan mudah terjerumus melakukan kemaksiatan.

Pelaku maksiat ini sadar dan mengetahui bahwa perbuaan itu terlarang dan berdosa bagi siapapun pelakunya termasuk dirinya sendiri. Mereka akan malu kalau perbuatannya itu diketahui, walaupun perbuatan tersebut terkadang sudah menjadi kebiasaan karena beberapa faktor.

Perilaku menyimpang ; baca LGBT ( homo) ini memang terkadang sering terjadi di sebuah pesantren. Bahkan di kalangan santri hal tersebut sudah menjadi rahasia umum.

Lalu mengapa hal tersebut, sepertinya tidak atau belum mendapatkan perhatian yang. serius, padahal mereka tahu perbuatan tersebut adalah larangan keras dan dosa besar.

Mereka biasanya sangat malu kalau ketahuan berbuat seperti itu, apalagi teman korbannya, jelas malu dua kali dan tidak berani menceritakan pada yang lain. Begitu ketahuan mereka akan " di bully" habis habisan oleh teman temannya, sehingga itu akan menjadi shock terapi tersendiri.
serta lambat laun akan hilang dengan sendirinya, baru kemudian muncul lagi pelaku yang lain dengan kedatangan santri baru yang lainnya. Namun itu semua tidak bisa berkembang, karena memang aturan pesantren dan syariat Islam jelas sangat melarang dengan keras.

Sementara Para Pejuang Paham Kemaksiatan ( Pegiat LGBT ) itu, adalah Pejuang Ide dan Pemahaman menyimpang. Boleh jadi mereka pelakunya atau juga tidak melakukan perbuatan itu.

Namun mereka meyakini dan membenarkan bahwa perbuatan tersebut bukan merupakan suatu perbuatan dosa dan maksiyat, sehingga mereka akhirnya berani terang-terangan sekalipun awalnya sembunyi-sembunyi.

Lebih dari itu, perbuatan tersebut akan disebarkan dan dipejuangkan terus. Mereka malah bangga dengan perbuatan tersebut serta membentuk komunitas tersendiri. Inilah yang sangat berbahaya.

Contoh lain,
Peminum khamer, boleh jadi dia mengetahui dan meyakni bahwa minum khamer itu haram, dan malu kalau sampai ketahuan. tapi dia terpaksa minum karena sesuatu hal.

Sementara Pegiat Minum Khamer itu biasanya Pegiat Ide Kebebasan, pejuang HAM dll. Mereka meyakini minum khamer itu bukan perbuatan maksiat sehingga mereka akan terus menyebarkan ide itu di tengah-tengah sebuah masyarakat.
0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online