riwayat yang menjadi hujjah mengoreksi secara terbuka, termasuk praktik Rasulullah

Kata 'inda pada kalimat 'inda sulthan[in] ja'ir[in], dalam hadits afdhal al-jihad berkonotasi dilakukan empat mata? Menyoal hadits ini:

«أَفْضَل الْجِهَاد كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ»

Ada pertanyaan menarik dari kajian bahasa:

"Kata 'inda sulthon' difahami lain oleh sbagian org yg justru melarang koreksi penguasa didepan umum, mhon dijelaskan ustadz..."

Jawab

Pertama, Itu kesimpulan yang bisa dikatakan prematur, mengingat kesimpulan itu akan menabrak banyaknya riwayat yang menjadi hujjah mengoreksi secara terbuka, termasuk praktik Rasulullah -shallallahu 'alayhi wa sallam- dan para sahabat dalam banyak riwayat.

Kedua, Kata 'inda, tak harus menunjukkan keharusan empat mata, ini bisa dikaji dalam kajian bahasa pula, karena maknanya, berkonotasi di hadapan penguasa, sampai di sini, kita tidak menemukan adanya petunjuk lain keharusan empat mata, kita berbicara di hadapan seseorang, bisa jadi di depan orang banyak atau berdua saja, nah untuk sampai pada kesimpulan harus empat mata maka perlu petunjuk (qarinah) lainnya yang mendukung, dan lugasnya tidak kita temukan petunjuk tegas keharusan empat mata ini.

Misalnya kalimat:

جلَسْتُ عِنْدَ فُلانٍ
"Saya telah duduk di samping/di sisi seseorang."

Dalam kalimat tersebut, kita tidak menemukan petunjuk apakah "saya" tsb duduk berdua saja, atau duduk di samping org lain di tempat publik, misalnya di bandara. Kita bisa tentukan jika ada keterangan lebih lanjut yang menunjukkan bahwa kebersamaan tersebut berdua saja, atau dihadapan banyak orang.

Wallahu a'lam bi al-shawab
0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online