Mewujudkan Persatuan Umat di Bawah Panji Rasulullah Saw

Mewujudkan Persatuan Umat di Bawah Panji Rasulullah Saw

#IslamRahmatanLilAlamin

Banyak kalangan berujar bahwa umat Islam saat ini punya banyak aliran, banyak kelompok dan gemar berseteru. Mereka pun pesimis umat Islam dapat dipersatukan kembali. Tentu saja, perasaan was-was seperti ini tak bisa dibiarkan.

Memang, tak bisa dipungkiri, kondisi umat Islam saat ini tengah berada pada keterpurukan yang amat berat. Cengkeraman sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan aturan islam dalam kehidupan masyarakat membuat umat Islam dirundung kesulitandalam berbagai sisi.

Namun, semangat untuk mengubah kondisi itu sebenarnya mulai bangkit. Beragam pendekatan dilakukan. Ada yang melalui jalur praktis di sektor pendidikan, ekonomi, politik, perbaikan akhlak, memasukiranah pemerintahan dan sebagainya. Ada juga yang lebih mengedepankan perubahan pemikiran, mengingat kelemahan terbesar umat ini adalah pemikirannya. Semua itu memang mengesankan umat terpecah belah, banyak kelompok, bahkan kadang gontok-gontokan–satu hal yang tak seharusnya dilakukan.

Miris memang jika mengingat semua kondisi itu. Namun, inilah kenyataan umat Muhammad Saw. Mereka kehilangan kekuatan bersatu sejak Islam dihinakan. Sejak kaum muslim menjadi bahan permainan orang-orang kafir dan tak memiliki Khalifah (pemimpin umum umat Islam sedunia), umat mudah bercerai-berai.
Padahal Allah SWT menyerukan:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai...” (TQS. Ali Imran 103).
Sesungguhnya umat Islam bersaudara. Mereka tidak boleh bercerai berai. Mereka sama-sama memiliki Allah yang satu dan Rasulullah Muhammad Saw. Syahadat mereka satu, maka seharusnya mereka tidak boleh bercerai berai dan melemahkan satu dengan yang lain.

Kalaupun pendapat fiqh ibadah bisa berbeda, cara berjuang juga berbeda, sesungguhnya mereka memiliki akidah yang sama, syahadat yang sama; la ilaha illalLah Muhammad Rasulullah Saw. Inilah yang seharusnya senantiasa terpatri dan menjadi semangat untuk bersatu dan ber-Islam di tengah persoalan yang membelit umat saat ini.

Sungguh, betapa persatuan itu amat dibutuhkan untuk bangkit dari keterpurukan. Dan umat tidak boleh pesimis, karena potensi persatuan itu pun hakikatnya ada, bahkan amat besar. Tak hanya untuk kaum muslim di Indonesia bahkan dunia. Sebab, mereka memiliki satu akidah yang tersimpul dalam; la ilaha illalLah, Muhammad Rasulullah. Selama mereka masih satu akidah, maka mereka pada hakikatnya satu. Tinggal dibuktikan dalam beramal dan berjuang.

Betapa berharganya persatuan ini, karena Ia menunjukkan kekuatan dan kejayaan umat. Maka sudah seharusnya, ikatan akidah ini senantiasa menjadi peringatan bagi umat di manapun berada. Dalam medan jihad, dalam pemerintahan, bahkan aktivitas kemasyarakatan lainnya.

Maka al Liwa dan ar Rayah -sebagai bendera dan panji Rasulullah Saw yang bertuliskan ikatan akidah pemersatu umat ini- selayaknya berkibar terus di mana pun umat berada. Karena ia menjadi lambang persatuan umat. Sungguh, ikatan apapun selain akidah Islam, baik itu nasionalisme, kesukuan, kepentingan, organisasi, dan sebagainya menjadi tak ada artinya.

Mari terus memperjuangkan persatuan umat berdasar akidah Islam melalui perjuangan menegakkan panji-panji Rasulullah Saw. Berkibarlah panji-panji pemersatu umat, agar umat ini kembali meraih kekuatan dan menyongsong kejayaannya kembali.
0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online