Mendudukan Kebhinekaan dalam Islam

*Mendudukan Kebhinekaan dalam Islam*

Oleh Fathur Rohman al-Faruq (Pembina Majelis Halqoh di Lamongan)

Kesuksesan kampanye Islam Rahmatan lil ‘alamin membuat hati sebagian orang meradang. Terlebih bagi kalangan liberalis dan sekularis di negeri ini. Tak ingin kalah mereka pun mengampanyekan tandingan dengan Islam Nusantara hingga melaunching buku Fiqh Kebhinekaan. Selain itu, sikap meradang pun kembali kumat tatkala melihat umat Islam melakukan Aksi Bela Islam Jilid 1 hingga 3. Mereka pun membuat parade kebhinekaan dan budaya. Berdasarkan kondisi tersebut, seolah-olah Islam anti kebhinekaan dan kemajemukan. Isu toleransi diangkat untuk mencampuradukan antara yang haq dan bathil.

Untuk itu harus ada upaya pelurusan makna kebhinekaan di tengah-tengah umat. Jangan sampai umat dibuat bingung dengan gaya politis kebhinekaan yang digunakan untuk menghantam Islam. Kebhinekaan berarti pluraritas dan kemajemukan. Hal ini merupakan sunnatullah bahwa Allah menciptakan manusia itu berlainan suku, bahasa, bangsa, dan ras.

Seabagaimana Firman Allah Swt:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al Hujurat: 13).

Ayat di atas memberikan pelajaran bagi kita bahwa keberagamaan itu wajar. Asalkan bukan menyamakan agama satu dengan lainnya (pluralisme); atau mencampuradukan satu agama dengan lainnya. Pada posisi ini Islam sangat tegas dan tanpa kompromi. Karena hal itu sudah mencakup ide. Oleh karena itu, berhentilah menyerang Islam dengan sebutan tendensius. Sadarilah bahwa Islam itu tinggi dan tiada yang mampu menyamainya. Sadarilah jika engkau memang orang-orang berakal. Wallahu a’lam bisshowwab.

0 komentar


0 komentar:

Posting Komentar

 

Bersama Belajar Islam | Pondok OmaSAE: Bersama mengkaji warisan Rasulullah saw | # - # | Pondok OmaSAE : Belajar Agama via online